Wartajakarta.id – Sebanyak 35 orang tewas akibat ledakan bom mobil kembar di Somalia. Kedua bom mobil bunuh diri itu membakar rumah dan menewaskan warga yang didominasi perempuan dan anak.
“Sebagian besar yang tewas adalah warga sipil. Mereka adalah perempuan dan anak-anak,” kata seorang wakil komisaris polisi setempat seperti dilansir dari Arab News, Kamis (5/1).
Bahkan momen tragis dialami 1 keluarga di mana 8 anggota keluarga tewas pada Rabu (4/1) ketika teroris meledakkan dua bom mobil di Somalia tengah tersebut. Wakil komisaris polisi negara bagian Hirshabelle, Hassan-Kafi Mohamed Ibrahim mengatakan hanya 1 anak yang selamat dari keluarga beranggotakan 9 orang.
“Keluarga lain juga kehilangan separuh anggota keluarganya,” ungkapnya.
Reaksi Presiden Somalia
Komisaris Distrik Mahas Mumin Mohamed Halane mengatakan satu bom menargetkan rumahnya dan yang lainnya menghantam rumah anggota Parlemen Federal. Diduga, kelompok Al-Shahab berada di balik serangan.
Presiden Somalia Hassan Sheikh Mohamud telah menyatakan perang habis-habisan terhadap Al-Shabab, yang telah melancarkan pemberontakan berdarah melawan pemerintah federal. Pada bulan Juli, milisi klan lokal yang dikenal sebagai Macawisley melancarkan pemberontakan melawan Al-Shabab di beberapa bagian Somalia tengah. Presiden Mohamud mengirim pasukan pada bulan September untuk mendukung perlawanan tersebut. Dalam beberapa bulan terakhir, tentara dan milisi telah merebut kembali sebagian besar wilayah di negara bagian Galmudug dan Hirshabelle. Namun, para pemberontak sering membalas dengan serangan berdarah, menyerang jantung kota Somalia dan instalasi militer.
Catatan serangan bom lainnya pada tahun 2022, pada 29 Oktober, 121 orang di ibu kota Mogadishu tewas dalam dua ledakan bom mobil di kementerian pendidikan. Lalu 8 warga sipil tewas pada 27 November dalam pengepungan 21 jam di sebuah hotel di Mogadishu. Kemudian 3 pemboman pada bulan Oktober di kota Beledweyne, ibu kota Hiran, menewaskan 30 orang. Dan setidaknya 21 tewas dalam pengepungan di sebuah hotel Mogadishu pada Agustus yang berlangsung 30 jam sebelum pasukan keamanan mengalahkan militan.
(jp)