Wartajakarta.id – Anwar Ibrahim resmi menjadi Perdana Menteri Malaysia. Hari pertama duduk sebagai PM, Anwar menyiapkan kabinet yang lebih ramping dengan gaji menteri yang lebih rendah. Ia juga menolak mengambil gajinya sebagai Perdana Menteri.
Kabinetnya lebih ramping yang terdiri dari para menteri dengan gaji yang dikurangi. Menurut Anwar, usulan penurunan gaji menteri dan pengurangan ukuran kabinet sedang dibahas.
“Ukuran Kabinet pasti lebih kecil dan mengurangi gaji mereka,” kata Anwar di hari pertamanya bekerja sebagai Perdana Menteri ke-10 seperti dilansir dari The Star, Minggu (27/11).
Ia juga mengumumkan bahwa Gabungan Rakyat Sabah (GRS) resmi bergabung dengan pemerintah persatuan. Anwar juga tidak akan mengambil gaji sebagai perdana menteri dan prioritas utamanya adalah mengatasi meningkatnya biaya hidup seperti laporan TRT World.
Begitu ia dilantik, ada perkembangan positif, seperti mata uang ringgit menguat pasar saham hijau saat ini. Hal ini menunjukkan kepercayaan (terhadap) penyelenggaraan pemerintah.
“Tapi, untuk saat ini, saya rasa harus diprioritaskan biaya hidup dan kenaikan harga barang-barang yang membebani rakyat,” ujarnya.
Menurut Anwar, pihaknya telah memerintahkan instansi pemerintah untuk segera mengambil langkah dan menggelar pertemuan paling lambat Senin (28/11). “Saya yakin, pamong praja (tahu) tugas utama kita adalah meringankan beban rakyat,” ujarnya.
Anwar mengatakan bahwa rakyat Malaysia telah lama menunggu perubahan. Ia berjanji akan membentuk pemerintahan yang baik dan berintegritas.
“Kami tidak akan pernah berkompromi dengan pemerintahan yang baik, gerakan anti-korupsi, independensi peradilan, dan kesejahteraan rakyat biasa Malaysia,” katanya.
Reaksi Muhyiddin
Rivalnya yang kalah dalam pemilihan, Muhyiddin Yassin, menantangnya untuk membuktikan mayoritasnya di parlemen. Muhyiddin merasa mendapatkan dukungan dari parlemen.
Sebuah pemerintah memiliki mayoritas dua pertiga di Parlemen dengan dukungan setidaknya 148 anggota parlemen dari 222. Sebelumnya Anwar Ibrahim belum menang mutlak atau belum menang 50 persen kursi, maka ia harus berkoalisi.
(jp)