Wartajakarta.id – Jembatan yang membentang di atas Sungai Machchhu, Morbi, Gujarat, India, itu sudah berusia 145 tahun. Ia baru direnovasi. Pada 26 Oktober lalu, jembatan yang memiliki lebar 1,25 meter dan panjang 233 meter tersebut dibuka untuk umum.
Nahas, jembatan gantung itu putus saat sekitar 400 orang berada di atasnya.
Hingga kemarin (31/11) 141 orang dipastikan tewas. Sekitar 50 orang di antaranya adalah anak-anak. Yang paling muda berusia 2 tahun. Tim penyelamat berhasil mengevakuasi 177 orang dengan selamat. Sisanya masih dinyatakan hilang dan dalam pencarian. Sangat mungkin jumlah korban jiwa bertambah.
Kejadian itu sejatinya bisa dicegah. Otoritas setempat menyerahkan pengelolaan dan renovasi jembatan tersebut kepada Oreva selama 15 tahun. Perusahaan itu belum melaporkan bahwa renovasi telah selesai. Namun, mereka berani membuka jembatan tersebut untuk umum. Tiket yang mereka jual juga mencapai 400 lebih. Padahal, ketika dikelola pemerintah dulu, maksimal 20 orang baru boleh ada yang lewat lagi.
Saat itu, pengunjung ingin menghabiskan hari terakhir liburan Diwali di atas jembatan tersebut. Beban yang berlebihan itu ditengarai menjadi salah satu penyebab putusnya jembatan suspensi tersebut.
Kemarin polisi sudah menahan 9 orang. Semuanya adalah orang-orang yang terkait dengan Oreva. Mereka diselidiki atas dugaan kelalaian yang berujung pada kematian. Entah bagaimana pemerintah bisa menyerahkan proses renovasi dan pengelolaan kepada Oreva. Sebab, mereka mendeskripsikan diri sebagai produsen jam terbesar di dunia. Oreva juga membuat produk lampu dan sepeda elektronik.
Ada kemungkinan beberapa orang lainnya akan menyusul ditahan. Sebab, berdasar rekaman CCTV, ada beberapa orang yang sengaja menggoyang-goyang jembatan tersebut sebelum akhirnya putus.
Madhvi Ben, korban selamat, mengungkapkan bahwa jembatan tersebut sempat terguncang keras sebelum akhirnya putus dan membuat orang-orang di atasnya terjatuh. Dia mendengar jeritan dan bunyi keras. Salah satu kaki Ben terjerat di tali baja yang membuat sebagian tubuhnya tenggelam di sungai.
’’Entah bagaimana saya menutup hidung dan menarik diri ke atas, lalu melepaskan kaki saya dari kawat. Saya meraih kawat lain dan memanjat sisa-sisa jembatan,’’ ujar pria 30 tahun tersebut seperti dikutip Agence France-Presse.
Kalyanji Kundariya termasuk yang bernasib nahas. Dia kehilangan 12 anggota keluarganya sekaligus dalam insiden tersebut. Lima di antaranya adalah anak kandungnya.
Otoritas setempat sudah berusaha melakukan penyelamatan secepatnya. Mereka mengerahkan perahu dan penyelam untuk mencari para korban. Perdana Menteri India Narendra Modi rencananya berkunjung ke lokasi kejadian hari ini. Pemerintah memberikan santunan Rp 78 juta kepada keluarga korban meninggal dan Rp 9,4 juta kepada korban luka.
Para pemimpin dunia seperti Presiden Rusia Vladimir Putin dan PM Jepang Fumio Kishida sudah mengirimkan ucapan belasungkawa. Pun demikian beberapa negara lain seperti Inggris, Bhutan, dan Nepal.
Kecelakaan yang melibatkan infrastruktur tua di India kerap terjadi. Pada 2016, flyover ambruk di Kolkata dan mengakibatkan 26 orang tewas. Lima tahun sebelumnya, jembatan ambruk di Darjeeling dan membuat 32 orang tewas.
(jp)