Wartajakarta.id – Hubungan Swedia dan Turki yang sempat tegang akibat insiden pembakaran Alquran kini mulai mereda dengan adanya peluang untuk berdialog. Swedia ingin melanjutkan masalah ini dengan bermusyawarah bersama Turki.
Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson mengatakan Selasa(24/1), menyerukan ajakan damai. Salah satunya berdiskusi lagi antara Swedia, Finlandia dan Turki.
“Pesan kolektif kami adalah bahwa kami ingin menyerukan ketenangan, sehingga kami dapat kembali ke pembicaraan antara Swedia, Finlandia dan Turki tentang keanggotaan NATO,” kata Kristersson dalam konferensi pers seperti dilansi dari Daily Sabah, Kamis (26/1).
Kristersson mengatakan, ada provokator yang ingin merusak hubungan Swedia dengan negara lain dan menggagalkan tawarannya untuk bergabung dengan aliansi militer Barat pimpinan AS. Tawaran untuk bergabung dengan NATO harus diratifikasi oleh semua anggota aliansi, di mana Turki menjadi anggotanya.
Turki pada hari sebelumnya mengatakan telah menunda pembicaraan aksesi NATO yang akan datang dengan Swedia dan Finlandia yang sebelumnya dijadwalkan pada Februari.
Presiden Recep Tayyip Erdogan sebelumnya mengecam Swedia terkait protes akhir pekan yang mencakup pembakaran Alquran di luar kedutaan Turki. “Jika Anda tidak menghormati agama Turki atau Muslim, Anda tidak akan mendapatkan dukungan apa pun dari kami di NATO,” kata Erdogan.
Sebelumnya, sejumlah lembaga dunia sudah mengutuk aksi pembakaran Alquran tersebut. Terbaru adalah PBB dan umat Islam serta Kristen di seluruh dunia ramai-ramai mengecam aksi politisi sayap kanan Swedia tersebut yang dianggap menebar kebencian terhadap umat Islam.
(jp)