Wartajakarta.id – Tiongkok saat ini menghadapi situasi darurat Covid-19 setelah kebijakan nol-Covid dicabut. Selama ini, Tiongkok menggunakan vaksin Sinovac, Sinopharm, dan vaksin nasional lainnya, bukan vaksin Barat dengan metode mRNA. Tiongkok tak terima jika vaksin nasional milik mereka disebut tak manjur.
Tiongkok mengklaim stok vaksin saat ini masih aman. Perusahaan Tiongkok Shanghai Fosun Pharmaceutical Group Co. melisensikan vaksin yang dikembangkan oleh BioNTech SE dan Pfizer hampir tiga tahun lalu dan berencana untuk mendistribusikan 100 juta dosis di negara tersebut, tetapi pihak berwenang di Beijing sejauh ini belum memberikan persetujuan peraturan.
AS terus membujuk Tiongkok untuk menerima vaksin metode mRNA seperti Pfizer karena dianggap lebih manjur.
Juru bicara kedutaan Tiongkok di Washington, Liu Pengyu menolak anggapan bahwa vaksinnya tidak efektif. Liu mengutip penelitian University of Hong Kong yang menyarankan tiga dosis CoronaVac Sinovac Biotech Ltd. 97 persen efektif melawan penyakit parah atau kematian. Nilai itu sejalan dengan tiga dosis vaksin mRNA.
Liu menambahkan bahwa Tiongkok telah memberikan 3,4 miliar suntikan di dalam negeri dan memiliki kapasitas produksi tahunan sebesar 7 miliar dosis, menjadikan Tiongkok pemain dalam ekspor vaksin. Sejumlah negara sudah mendapatkan Sinovac sejak awal pandemi seperti Brasil dan Indonesia.
“Tiongkok tidak hanya dapat memenuhi permintaan domestik tetapi juga memasok ke negara lain yang membutuhkan,” kata Liu.
Liu juga menegaskan bahwa vaksin nasional manjur melawan varian baru. Apalagi saat ini Tiongkok sedang menghadapi mutasi Omicron BF.7.
“Kami juga bekerja untuk memutakhirkan vaksin agar lebih efektif dan mendukung vaksinasi untuk mengatasi kemungkinan varian baru sehingga kami akan terus memainkan peran konstruktif dalam perang melawan Covid-19,” pungkas Liu.
(jp)