Wartajakarta.id – Presiden Taiwan Tsai Ing-wen telah mengundurkan diri sebagai ketua umum partai setelah partainya mengalami kekalahan besar dalam pemilihan lokal atau Pilkada. Strategi kampanye Tsai untuk fokus pada pembangkangan Taiwan terhadap Beijing tampaknya menjadi bumerang.
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengundurkan diri Sabtu sebagai pemimpin Partai Progresif Demokratik (DPP) yang berkuasa setelah kehilangan banyak kursi dalam pemilihan lokal di seluruh negeri. Tsai mengatakan dalam pidato singkat bahwa dia akan memikul tanggung jawab atas kekalahan partainya karena dia memilih kandidat yang mencalonkan diri dalam pemilihan lokal.
“Hasilnya mengecewakan harapan kami. Kami dengan rendah hati menerima hasilnya dan menerima keputusan rakyat Taiwan,” kata Tsai saat mengajukan pengunduran dirinya seperti dilansir dari DW, Senin (28/11).
Namun dia akan tetap menjabat sebagai presiden Taiwan sampai pemilihan presiden pada tahun 2024. Sebelumnya Tsai telah menyusun kembali pemilihan lokal dan ingin membuktikan bagaimana Taiwan mempertahankan demokrasinya di tengah ketegangan militer dengan Tiongkok.
Pilkada di Taiwan
Taiwan memilih walikota, anggota dewan kota, dan pemimpin lokal lainnya di 13 kabupaten dan di sembilan kota. Ada juga referendum untuk menurunkan usia pemilih dari 20 menjadi 18 tahun. Meskipun pejabat lokal yang terpilih tidak memiliki pengaruh langsung terhadap kebijakan Tiongkok Taiwan, Tsai telah membingkai pemungutan suara tersebut untuk menunjukkan pembangkangan terhadap Beijing. Namun, strategi tersebut gagal memobilisasi pemilih.
Partai Nasionalis, atau Kuomintang (KMT), merebut 13 dari 21 kursi walikota dan bupati yang diperebutkan, termasuk ibu kota Taipei. Sebelumnya nama Tsai mencuat karena Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengunjungi Taiwan dan membuat kesal.Tiongkok. Sementara itu,
Beijing mengatakan akan terus bekerja dengan rakyat Taiwan untuk mempromosikan hubungan damai.
(jp)