Wartajakarta.id – Korea Utara menembakkan rudal balistik antarbenua yang mendarat di dekat perairan Jepang pada Jumat (18/11). Ini merupakan uji senjata terbesar kedua bulan ini. Korea Utara berniat menunjukkan kemampuan militernya andai meluncurkan serangan nuklir di seluruh daratan AS.
Uji coba senjata Korea Utara baru-baru ini bertujuan untuk memajukan persenjataan nuklirnya dan memenangkan konsesi yang lebih besar dalam diplomasi masa depan. Itu terjadi ketika Tiongkok dan Rusia menentang langkah AS untuk memperketat sanksi PBB yang bertujuan mengekang program nuklir Korea Utara.
Wapres AS Marah
Amerika Serikat mengutuk peluncuran tersebut dan berjanji untuk mengambil tindakan. AS berupaya melindungi sekutunya, Jepang dan Korea Selatan.
“Kami ambil semua tindakan yang diperlukan,” tegas Wapres AS Kamala Harris.
Kamala bertemu dengan para pemimpin negara-negara tersebut dan dari Australia, Kanada, dan Selandia Baru dalam forum regional di Bangkok untuk membahas peluncuran tersebut.
“Kami sekali lagi menyerukan kepada Korea Utara untuk menghentikan tindakan destabilisasi yang melanggar hukum lebih lanjut. Atas nama Amerika Serikat, saya menegaskan kembali komitmen kuat kami terhadap aliansi Indo-Pasifik kami,” kata Harris di awal pertemuan.
“Bersama negara-negara yang diwakili di sini akan terus mendesak Korea Utara untuk berkomitmen pada diplomasi yang serius dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengatakan pihaknya mendeteksi peluncuran ICBM dari wilayah ibu kota Korea Utara sekitar pukul 10:15 pagi. Jepang mengatakan rudal terbang di lintasan tinggi dan mendarat di barat pulau Hokkaido.
Menurut perkiraan Korea Selatan dan Jepang, rudal tersebut terbang sejauh 1.000 kilometer (620 mil) dengan ketinggian maksimum 6.000-6.100 kilometer (3.600-3.790 mil). Menteri Pertahanan Jepang Yasukazu Hamada mengatakan bahwa tergantung pada berat hulu ledak potensial, rudal tersebut memiliki jangkauan melebihi 15.000 kilometer (9.320 mil).
“Dalam hal ini dapat mencakup seluruh daratan Amerika Serikat,” tutup Hamada.
(jp)