Dari Jabatan Ketua Partai Pejuang, tapi Tetap Pimpin Koalisi
Wartajakarta.id – Mahathir Mohamad mulai melepaskan diri dari jabatan di dunia politik. Mantan perdana menteri (PM) Malaysia tersebut mundur dari posisi Ketua Partai Pejuang Tanah Air (Pejuang). Itu adalah partai yang dia dirikan pada 2020 setelah mundur dari Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu).
“Anggota dewan eksekutif pusat dan anggota partai mengucapkan terima kasih atas layanan, bimbingan, dan kepemimpinannya selama masa jabatannya sebagai ketua,” ujar Presiden Pejuang Mukhriz Mahathir, mengonfirmasi pengunduran diri ayahnya, seperti dikutip Channel News Asia.
Mukhriz menegaskan bahwa partai akan berusaha agar cara berpikir dan gaya kepemimpinan Mahathir yang berlandaskan prinsip dan nilai-nilai budaya murni dapat diteladani generasi penerusnya. Mahathir tetap menjadi anggota Pejuang. “Kami percaya dia akan terus memberikan pandangan dan kritik yang konstruktif terhadap masa depan Malaysia sebagai negarawan yang luar biasa,” ucap Mukhriz.
Salah satu pemimpin Pejuang yang tak mau disebut namanya mengungkapkan, keluarga Mahathir ingin politikus 97 tahun itu mundur saja dari dunia politik. Namun, banyak pihak yang meyakini itu bukan alasan sebenarnya. Sebab, ada beberapa laporan bahwa dia tetap menjabat ketua koalisi Gerakan Tanah Air (GTA). Itu adalah koalisi partai-partai yang berbasis warga Melayu, lembaga nonprofit, akademisi, dan profesional yang dibentuk sebelum pemilu November lalu.
Santer dugaan, Mahathir mundur karena kekalahannya di pemilu presiden. GTA mengusung 158 kandidat. Sebanyak 116 di antaranya memperebutkan kursi parlemen. Mereka bertarung di bawah panji Pejuang, namun kalah semua. Termasuk Mahathir dan Mukhriz. Mereka berdua ada dalam daftar 369 kandidat pemilu yang kehilangan depositnya.
Dalam pemilu di Malaysia, ada aturan bahwa setiap kandidat yang mencalonkan diri harus membayar deposit MYR 10 ribu atau setara dengan Rp 35,3 juta. Jika perolehan suara yang mereka dapat kurang dari 1 per 8 atau 12,5 persen dari jumlah pemilih yang memberikan hak suaranya, deposit akan hangus dan masuk kas pemerintah.
Mahathir yang bertarung di Langkawi hanya meraih 4.566 suara. Jumlah tersebut kurang dari 12,5 persen dari pemilih yang memberikan hak suara di Langkawi. Itu adalah kekalahan pertamanya dalam 53 tahun dan yang paling memalukan. Dari lima kandidat di Langkawi, Mahathir hanya berada di posisi keempat. Kursi di wilayah tersebut jatuh ke kandidat Perikatan Nasional (PN).
Kekalahan GTA, khususnya Pejuang itu sangat memalukan. Terlebih jika melihat latar belakang Mahathir sebagai PM terlama di Malaysia. Mendapat suara sekecil itu, artinya dia sudah tidak diharapkan untuk berkecimpung di dunia perpolitikan Malaysia.
Mahathir menjadi presiden UMNO dan ketua Koalisi Barisan Nasional (BN) sejak 1981–2003. Saat itu dia juga menjabat PM. Dia meninggalkan UMNO pada 2016 dan mendirikan Partai Bersatu. Saat itu Mahathir berkonflik dengan Najib Razak dan para petinggi UMNO lainnya. Bersatu akhirnya bergabung dengan koalisi Pakatan Harapan (PH) yang dipimpin Anwar Ibrahim.
PH menang di Pemilu 2018. Namun, karena Anwar masih dipenjara, Mahathir diusung sebagai PM. Dengan catatan, hanya menjabat 2 tahun. Lalu, kekuasaan diserahkan kepada Anwar setelah dia mendapat pengampunan dari raja. Namun, Mahathir enggan turun dan menimbulkan konflik kekuasaan di Malaysia.
Mahathir meninggalkan Bersatu pada 2020 setelah Presiden Bersatu Muhyiddin Yassin memimpin partai untuk membentuk pemerintahan koalisi dengan PAS dan Barisan Nasional. Setelah terdepak itulah Mahathir mendirikan Pejuang.
(jp)