Wartajakarta.id – Kondisi kesehatan Menlu Rusia Sergei Lavrov sempat menjadi pertanyaan dalam KTT G20. Dia dikabarkan mengalami gangguan pada jantungnya. Meski begitu, Lavrov dipastikan dalam kondisi sehat. Rusia pun menampik isu Lavrov jatuh sakit.
Jubir Kemenlu Rusia Maria Zakharova mengatakan, kabar tentang Lavrov sakit jantung adalah bohong.
Zakharova mengunggah video Lavrov yang berusia 72 tahun itu sedang duduk di teras, mengenakan celana pendek dan kaus, serta membaca dokumen. “Kami di sini bersama Sergei Viktorovich (Lavrov) di Indonesia, membaca berita dan kami tidak dapat memercayai mata kami,” kata Zakharova dilansir AFP.
Tadi malam Lavrov telah bertolak kembali ke Rusia sekitar pukul 20.30 Wita. Kembalinya utusan Presiden Rusia Vladimir Putin itu memunculkan spekulasi tak akan ada komunike. Sebelumnya, memang beredar rencana deklarasi komunike yang melibatkan negara-negara G20. Komunike itu disebut akan berisi sikap negara-negara yang menyesalkan dampak invasi Rusia ke Ukraina. Selain itu, ada kesepakatan untuk menolak penggunaan senjata nuklir. Lavrov sendiri disebut mengkritik rancangan komunike yang diinisiasi negara-negara Barat itu.
Andai komunike benar-benar batal, tidak berarti presidensi G20 Indonesia gagal. Indonesia tetap dinilai sukses menjalankan tugasnya setahun terakhir. Pengamat hubungan internasional Hikmahanto Juwana menegaskan, komunike bukan tolok ukur keberhasilan presidensi G20. Komunike hanyalah sebuah pernyataan bersama, bagaimana para kepala negara punya persepsi yang sama ke depan. Terkait hal tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutannya sudah jelas menyampaikan bahwa perang harus diakhiri.
Nah, yang menjadi persoalan, bagaimana merumuskan perang diakhiri itu yang pastinya tidak sama persepsinya. Misalnya, Amerika Serikat yang mengartikan ini sebagai perang agresi oleh Rusia harus diakhiri. Jika demikian, dipastikan bahwa Rusia tidak akan terima. Padahal, komunike harus konsensus, harus bersama. Ini yang harus dikomunikasikan negara G20 di level bawah sebelum disetujui para kepala negara.
”Kita harapkan bisa (ada komunike, Red). Tapi, kalau tidak bisa, bukan suatu kegagalan bagi Indonesia. Masak segala keinginan kepala negara yang tidak bisa dikendalikan dilimpahkan ke Indonesia,” paparnya kepada koran ini kemarin (15/11).
Selain itu, perlu digarisbawahi, setiap kepala negara memiliki kedaulatan yang tak bisa diintervensi. ”Jadi, komunike tak jadi ukuran (berhasil atau tidak, Red). Indonesia di mata dunia tidak gagal,” sambungnya.
Menurut dia, dunia tahu bagaimana presidensi Indonesia dalam satu tahun terakhir. Jokowi pun telah melakukan banyak hal untuk bisa menyelesaikan masalah geopolitik. Mulai datang ke Jerman untuk bertemu para pemimpin negara G7, datang ke Ukraina, dan mengundang Presiden Volodymyr Zelensky untuk datang ke G20. Lalu, mengunjungi Rusia untuk bertemu langsung dengan Presiden Vladimir Putin. Bahkan, menjelang G20, Jokowi menelepon para kepala negara untuk memastikan kehadiran mereka.
”Karena presiden tahu bahwa tanpa ada penyelesaian geopolitik, pertumbuhan ekonomi tidak akan bangkit. Dan, dunia paham Indonesia sudah maksimal,” paparnya. Begitu pula saat pergelaran G20 di Bali. Indonesia telah memastikan semua delegasi disambut dengan baik, dijamin keamanan, hingga acara pun bisa terlaksana dengan lancar.
Dia melanjutkan, pidato pembukaan yang disampaikan Presiden Jokowi pun jelas pesannya bahwa perang harus berakhir. Meski dalam konteks tersebut, presiden tak secara gamblang menyebut Rusia sebagai agresor atau Ukraina sedang mengalami invasi.
Namun, menurut rektor Universitas Jenderal Achmad Yani itu, hal tersebut merupakan keputusan bijak. Presiden memberikan imbauan tanpa perlu memojokkan salah satu pihak. Tetap menjunjung bebas aktif, tapi secara tegas mengatakan, perang harus diakhiri. Bila tidak, dunia akan terdampak. ”Beliau juga mengatakan ini harus win-win solution, bukan win-lose solution. Zero sum game, habis-habisan,” katanya.
Terkait nanti imbauan tersebut disambut Rusia, lanjut dia, tentu tak ada yang tahu. Sebab, Putin pun tak hadir langsung di Bali. Seandainya hadir, tak tertutup kemungkinan adanya pertemuan seperti yang dilakukan Xi Jinping dan Joe Biden.
(jp)