Wartajakarta.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkhawatirkan penularan Covid-19 varian Omicron XBB.1.5. Sebagai langkah antisipasi semakin meluasnya varian super ini, WHO meminta masker tetap direkomendasikan pada penerbangan atau saat naik pesawat.
Negara-negara telah didesak untuk merekomendasikan masker pada penerbangan jarak jauh karena subvarian Covid-19 terbaru terus menyebar dengan cepat di Amerika Serikat. Subvarian XBB.1.5 Omicron sejauh ini telah terdeteksi di lebih dari 25 negara, termasuk 8 kasus di Australia.
Dilabeli oleh WHO sebagai subvarian Omicron yang paling mudah menular sejauh ini, XBB.1.5 menyumbang 27,6 persen kasus Covid-19 baru di AS minggu lalu, menurut pejabat kesehatan. Subvarian sekarang menyumbang lebih dari 40 persen dari semua kasus AS, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).
“Penumpang harus disarankan untuk memakai masker dalam pengaturan berisiko tinggi seperti penerbangan jarak jauh,” kata Petugas Darurat WHO untuk Eropa, Catherine Smallwood.
Salah satu negara misalnya Australia mempersilakan pemakaian masker sesuai pilihan pribadi untuk mengurangi risiko. Para ahli mengatakan tidak jelas apakah XBB.1.5 akan menyebabkan gelombang infeksi global. Vaksin saat ini masih diyakini bakal melindungi dari gejala parah, rawat inap, dan kematian.
“Negara-negara perlu melihat basis bukti untuk pengujian pra-keberangkatan,” kata Smallwood.
Varian XBB.1.5 adalah turunan lain dari Omicron. Ini adalah cabang dari XBB, pertama kali terdeteksi pada bulan Oktober, yang merupakan rekombinan dari dua subvarian Omicron lainnya.
Masker sudah direkomendasikan untuk orang-orang yang terbang ke Uni Eropa dari Tiongkok karena kasus sedang melonjak. Menurut data yang dilaporkan oleh WHO awal bulan ini, analisis oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok menunjukkan subvarian Omicron BA.5.2 dan BF.7 adalah yang paling umum di Tiongkok.
(jp)