Wartajakarta.id – Turki dilaporkan memblokir akses ke Twitter hanya beberapa hari setelah gempa dahsyat melanda daerah tersebut. Ribuan orang masih terperangkap di gedung-gedung di Turki dan Suriah, di mana jumlah korban tewas mencapai belasan ribu jiwa.
Menurut Bloomberg, orang-orang di Turki mulai kesulitan mengakses Twitter pada Rabu (8/2). Beberapa masyarakat di Turki dilaporkan menggunakan VPN untuk tetap bisa menggunakan layanan Twitter.
Kemal Kilicdaroglu, pemimpin partai oposisi utama Turki, menuduh pemerintah memblokir Twitter. Tidak jelas mengapa pemerintah Turki mungkin ingin mencegah akses ke Twitter di tengah kehancuran tersebut.
Pemblokiran Twitter terjadi saat Presiden Recep Tayyip Erdogan berkunjung ke dua provinsi yang paling terdampak gempa Turki. Tidak ada tanggapan pemerintah soal gangguan layanan ini.
Diketahui, layanan media sosial masih merupakan alat tanggap bencana yang berharga dan pengguna juga telah berbagi gambar kehancuran akibat gempa bumi. Pertolongan dan empati dari banyak negara juga seringnya timbul dengan didorong dari unggahan di media sosial termasuk Twitter.
Twitter sendiri tidak memiliki tim komunikasi yang dapat dihubungi untuk memberikan komentar, tetapi pada hari Rabu sore Elon Musk mencatat melalui cuitannya bahwa akses Twitter di Turki harus “segera diaktifkan kembali”.
Elon Musk juga mengungkapkan bahwa pihaknya sudah mencoba mengontak pihak terkait untuk mengatasi hal ini. Tanggapan Elon Musk ini muncul saat dirinya membalas cuitan dari Mathias Fons di akun @FonsDK, yang mengungkapkan adanya pembatasan Twitter oleh pemerintah Turki.
Diketahui, ini bukan pertama kalinya Turki menghentikan penduduk mengakses layanan media sosial. Itu juga dilakukan selama operasi militer lintas batas dan serangan teror beberapa waktu lalu.
Pada 2014, Turki untuk sementara juha pernah melarang Twitter. Pengguna berbagi rekaman suara dan dokumen yang konon menunjukkan korupsi dalam lingkup pengaruh Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan saat itu.
Erdoaan menjadi presiden Turki akhir tahun itu dan dia tetap berkuasa. Pemerintahnya telah menghadapi kritik atas tanggapannya terhadap bencana minggu ini.
(jp)