Wartajakarta.id – Pemilihan Ketua DPR AS berantakan. Calon yang diusung dari Republik, Kevin McCarthy, gagal mendapatkan suara. Kevin McCarthy merupakan calon dari Partai Republik sebagai pengganti Ketua DPR sebelumnya yakni Nancy Pelosi dari Demokrat.
Presiden AS Joe Biden ikut kesal dan menyindir pemilihan tersebut. Ia menyebut pemilihan itu memalukan.
“Seluruh dunia sedang menyaksikan Capitol Hill. Saya pikir itu sangat memalukan karena butuh waktu lama,” kata Biden.
Pemilihan Ketua DPR AS ditunda sementara setelah enam suara selama dua hari gagal menghasilkan ketua DPR yang baru. Pada hari kedua pemungutan suara, perwakilan juga gagal mendukung Kevin McCarthy.
Anggota parlemen memilih untuk pulang pada malam hari dan mencoba lagi pada pukul 12 siang (waktu AS) pada Kamis (5/1). Kebuntuan telah menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan Partai Republik untuk memerintah selama dua tahun mendatang.
McCarthy merupakan calon dari California. Ia telah menjabat sebagai anggota DPR Republik teratas sejak 2019 dan memimpin upaya sukses partainya untuk memenangkan kendali majelis dalam pemilihan paruh waktu 2022.
Didukung Donald Trump
Meski ada seruan persatuan dari Donald Trump, mantan presiden AS, sekitar 20 Republikan di sayap kanan partai menolak mendukung McCarthy karena alasan ideologis. McCarthy hanya mendapatkan 201 dari 218 suara yang dibutuhkan, sementara 20 Republikan memilih Byron Donalds, yang pertama kali terpilih pada 2020.
Terakhir kali DPR gagal memilih pembicara pada pemungutan suara pertama adalah seabad yang lalu, pada 1923. McCarthy tetap yakin bahwa lobi-lobi akan berlanjut.
Reaksi Pelosi
Mantan Ketua DPR AS, Nancy Pelosi menyebut sikap Partai Republik terhadap McCarthy sembrono. “Tidak sopan, dan tidak layak,” kata Pelosi.
DPR berkumpul kembali Kamis (5/1) siang untuk memulai putaran ketujuh pemungutan suara. Pelosi mempertimbangkan drama seputar pemilihan calon penggantinya. Pelosi menegur Partai Republik atas sikap angkuh mereka dalam memilih pimpinan baru.
“Semua yang bertugas di DPR berbagi tanggung jawab untuk membawa martabat lembaga ini. Sayangnya, sikap angkuh Partai Republik dalam memilih Pembicara adalah sembrono, tidak sopan, dan tidak pantas untuk institusi ini,” tulis Pelosi.
(jp)