Wartajakarta.id – Sekarang atau tidak sama sekali. Peringatan itu dikeluarkan Perdana Menteri (PM) Jepang Fumio Kishida dalam pidatonya di parlemen. Dia memberikan peringatan itu lantaran penurunan angka kelahiran di Jepang sudah cukup parah. Negara Sakura itu mengalami krisis populasi.
”Dalam memikirkan keberlanjutan serta inklusivitas ekonomi dan masyarakat bangsa kita, kami menempatkan dukungan pengasuhan anak sebagai kebijakan terpenting,” ujar Kishida, seperti dikutip BBC.
Dia memaparkan, pemerintah ingin menggandakan pengeluarannya untuk program terkait anak. Sebuah badan pemerintah baru akan dibentuk pada April nanti yang akan fokus pada masalah tersebut. Sebelumnya, pemerintah juga mempromosikan program serupa, tapi gagal mendongkrak angka kelahiran.
Sejatinya penurunan angka kelahiran tidak hanya terjadi di Jepang, tetapi juga di beberapa negara lain seperti Korsel dan Tiongkok. Namun, Jepang berada pada ambang batas tidak bisa mempertahankan fungsi sosialnya lagi, jika penurunan angka kelahiran terus berlanjut. Hal itu ditambah angka harapan hidup di negara tersebut yang terus naik. Artinya, bakal lebih banyak lansia dibandingkan para pemudanya.
Data pada 2020 menunjukkan, hampir 1 dari 1.500 penduduk di Jepang berusia 100 tahun ke atas. Berdasar data Bank Dunia, Jepang saat ini duduk di posisi kedua sebagai negara dengan proporsi lansia di atas 65 tahun. Jumlahnya mencapai sekitar 28 persen. Posisi pertama adalah Monako.
”Memfokuskan perhatian pada kebijakan mengenai anak dan mengasuh anak adalah masalah yang tidak bisa menunggu dan tidak bisa ditunda,” tegas Kishida.
Populasi penduduk di negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia itu terus menurun selama beberapa tahun terakhir. Pada 2020–2021 terjadi penurunan hingga 644 ribu. Tahun lalu, rekor penurunannya mencapai 800 ribu.
Saat ini populasi di Jepang mencapai 125 juta orang. Jika kondisi itu terus berlanjut, diperkirakan pada 2065 jumlah penduduk Jepang hanya 88 juta orang. Bahkan, para pakar memperkirakan bahwa pada akhir dekade ini populasi di Jepang kemungkinan hanya bersisa kurang dari 53 juta orang.
Ada banyak faktor yang membuat warga Jepang enggan menambah momongan. Mulai dari biaya hidup yang tinggi, lebih banyak perempuan yang memilih mengejar karier di dunia kerja, hingga akses luas atas alat dan obat kontrasepsi.
(jp)