Wartajakarta.id – Rusia marah dan kecewa. Sebab, sepanjang kunjungan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky ke Amerika Serikat (AS), tidak ada pembicaraan terkait perdamaian. Justru yang ada adalah kucuran tambahan bantuan dari Washington senilai USD 1,8 miliar (Rp 28,04 triliun) yang berupa suplai militer. Salah satunya sistem pertahanan misil Patriot.
Pejabat di Rusia selama beberapa bulan terakhir telah berkali-kali menyatakan tidak mengesampingkan pembicaraan dengan Ukraina. Namun, Zelensky kukuh menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan damai selama Presiden Rusia Vladimir Putin masih menjabat.
”Tidak ada seruan nyata untuk perdamaian. Ini menunjukkan bahwa AS melanjutkan perang de facto-nya secara tidak langsung dengan Rusia hingga ke penduduk terakhir Ukraina,” kata Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov kemarin (22/12) seperti dikutip Agence France-Presse.
Kunjungan Zelensky ke AS yang dirancang diam-diam tersebut memang menjadi sorotan banyak pihak. Itu adalah lawatan pertamanya ke luar negeri sejak Ukraina diserang Rusia pada akhir Februari lalu.
Momennya bersamaan dengan peringatan 300 hari invasi Rusia. Beberapa jam sebelum kedatangan Zelensky di AS, Putin menegaskan bahwa tahun depan akan terus mengembangkan potensi militer dan kesiapan tempur kekuatan nuklirnya.
Kedatangan Zelensky di AS disambut bak pahlawan. Dia tetap mengenakan baju hijau militer yang menjadi ciri khasnya selama invasi berlangsung. Para legislator dan senator memberikan jalan dan bertepuk tangan ketika dia memasuki ruang rapat untuk berpidato di hadapan Kongres AS.
Dalam pidatonya pada Rabu (21/12) itu, pemimpin 44 tahun tersebut menggarisbawahi kuatnya hubungan AS dan Ukraina. Menurut dia, dukungan finansial dari AS selama ini bukanlah sebuah amal, melainkan investasi untuk keamanan global dan demokrasi.
Zelensky bersumpah bahwa negaranya tidak akan berhenti melawan agresi Rusia. Tapi, dukungan berkelanjutan dari Washington adalah kunci akhir kemenangan.
Tanpa bantuan persenjataan dari AS dan negara-negara Barat, Ukraina sudah lama kalah oleh Rusia. Sejak awal invasi, AS sudah memasok persenjataan ke Ukraina senilai USD 22 miliar atau setara Rp 342,8 triliun. Itu belum termasuk bantuan terbaru di atas.
Pemimpin Ukraina tersebut menyinggung pertempuran AS melawan Nazi Jerman dan komitmen masa perang Presiden Franklin Roosevelt dalam upaya untuk menjaga pasokan senjata AS mengalir untuk perang melawan Rusia. Pernyataan tersebut seakan menjadi penegasan bahwa kini dia juga ingin AS terus memasok senjata dalam perang Ukraina melawan Rusia.
Selain itu, Zelensky mendesak agar sanksi terhadap Rusia diperberat. ”Biarkan para teroris tersebut bertanggung jawab atas agresi yang dilakukannya,” ujar dia.
Zelensky mengakhiri pidatonya dengan mengatakan bahwa Ukraina akan mencapai kemenangan mutlak. ”Ukraina masih hidup dan hebat,” tutupnya yang disambut tepuk tangan meriah para anggota Kongres AS.
Dalam perjalanan pulang, Zelensky mampir ke Polandia dan bertemu dengan Presiden Polandia Andrzej Duda. Mereka mendiskusikan rencana strategis ke depan dan hubungan bilateral kedua negara yang berbagi perbatasan tersebut. Sejak invasi, banyak penduduk Ukraina yang mengungsi ke Polandia.
(jp)