Wartajakarta.id – Seorang gadis 17 tahun mendadak viral karena mengunggah video saat ia berbelanja tas di mal. Ia menyebut tas merek Charles & Keith sebagai tas mewah baginya. Padahal harganya hanya SGD 88 atau setara Rp 880 ribu.
Namanya adalah Zoe Gabriel, 17. Ia diejek oleh beberapa warganet setelah dia mengunggah video ke platform TikTok. Ia berterima kasih kepada ayahnya atas tas mewahnya.
“Ini tas mewah pertama saya,” katanya lewat tulisan seperti dilansir dari Today Online, Jumat (13/1).
Unggahan video itu di-bully netizen karena tas berkategori luxury atau mewah semestinya seperti deretan tas branded yang berasal dari rumah mode Prancis. Tapi, baginya itu adalah tas termahal yang dia miliki.
Zoe Gabriel memberikan klarifikasi mengapa menyebut tas tersebut sebagai tas mewah. Kepada Straits Times melalui e-mail bahwa keluarganya pindah ke Singapura dari Filipina pada 2010. Meski dia menolak untuk mengatakan lebih banyak tentang orang tuanya, diketahui bahwa ayahnya bekerja sebagai seorang insinyur mesin.
“Keluarga saya tidak punya banyak (uang). Kami tidak bisa membeli barang-barang sederhana seperti roti dari BreadTalk ketika kami pindah ke Singapura. Komentar Anda berbicara banyak tentang betapa bodohnya Anda karena kekayaan Anda,” kata sulung dari empat bersaudara itu.
Setelah viral, justru menjadi hikmah bagi Zoe Gabriel. Ia dan ayahnya bahkan diundang makan siang bersama founder Charles & Keith langsung di Singapura. Mereka makan siang bersama dengan saudara laki-laki Charles dan Keith Wong. Zoe dan ayahnya juga mengunjungi kantor pusat Charles & Keith.
Ujung-ujungnya, Zoe diberi hadiah berupa produk dan voucher. Bisnis lain juga memberinya hadiah, salah satunya ramen lokal Takagi Ramen menawarkan keluarganya voucher makan SGD 80. Zoe juga berterima kasih kepada salon rambut lokal Kimistry Hair Boutique untuk penampilan barunya dalam sebuah posting-an video. Zoe mengesankan banyak orang ketika dia membalas komentar dengan bijaksana.
Charles & Keith didirikan oleh saudara kandung Charles dan Keith Wong pada 1996, yang mempelajari tali dengan bekerja di toko sepatu ibu mereka di Ang Mo Kio. Dimulai sebagai outlet sederhana di bekas Pusat Perbelanjaan Amara, merek ini berubah menjadi nama rumah tangga tidak lama kemudian, berkembang menjadi lebih dari 600 toko dan mempekerjakan sekitar 4.000 orang di seluruh dunia.
(jp)