Gempa bumi merupakan ancaman alam yang sering terjadi di wilayah Indonesia. Karena itu, upaya mitigasi kegempaan sangat penting untuk melindungi masyarakat dan aset-aset publik.
MTsN 1 Tangsel sebagai salah satu lembaga pendidikan juga merasa perlu untuk melakukan simulasi mitigasi kegempaan demi meningkatkan kesiapsiagaan dan kesadaran akan bahaya gempa. Untuk itu, pada Selasa (31/10/2023) MTsN 1 Tangsel melakukan simulasi mitigasi kegempaan.
Kepala MTsN 1 Tangsel, Ade Zaenudin, menjelaskan tujuan dari kegiatan simulasi mitigasi kegempaan tersebut, antara lain untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa, guru, dan staf sekolah tentang langkah-langkah mitigasi kegempaan.
“Kegiatan ini juga untuk melatih siswa, guru, dan staf sekolah dalam tindakan darurat selama dan setelah terjadi gempa, serta mengidentifikasi kelemahan dan perbaikan dalam rencana mitigasi kegempaan sekolah,” tuturnya.
Dijelaskannya, prosedur kegiatan ini terdiri dari sosialisasi awal, dimulai dengan sosialisasi kepada seluruh siswa, guru, dan staf sekolah tentang tujuan dan prosedur simulasi mitigasi kegempaan.
“Dalam simulasi ini juga dilakukan peringatan gempa palsu. Semua peserta diinstruksikan untuk menjalankan langkah-langkah mitigasi yang telah diajarkan, seperti berlindung di bawah meja atau tempat perlindungan lainnya,” jelasnya.
Setelah peringatan gempa palsu, sambungnya, dilakukan evakuasi dari bangunan sekolah ke area terbuka. Selama evakuasi, peserta harus memastikan keselamatan diri dan orang lain.
“Setelah proses evakuasi, dilakukan pelatihan pertolongan pertama untuk mengatasi cedera ringan dan memberikan pertolongan pada korban gempa,” sambungnya.
Setelah simulasi, lanjutnya, dilakukan evaluasi dan diskusi bersama untuk mengidentifikasi kelemahan dan perbaikan dalam rencana mitigasi kegempaan sekolah.
Dirinya berharap simulasi mitigasi kegempaan ini memberikan sejumlah hasil dan pembelajaran penting, diantaranya meningkatkan pengetahuan siswa tentang langkah-langkah mitigasi kegempaan dan tindakan darurat yang perlu diambil selama gempa. Mereka juga menjadi lebih sadar akan pentingnya keselamatan diri dan orang lain.
“Selama diskusi pasca-simulasi, ditemukan beberapa kelemahan dalam rencana mitigasi kegempaan sekolah, seperti koordinasi yang kurang baik dan akses yang terbatas ke peralatan pertolongan pertama. Hal ini akan menjadi dasar untuk perbaikan dan peningkatan rencana mitigasi kegempaan di MTsN 1 Tangsel,” ucapnya.
Dirinya berharap kegiatan simulasi mitigasi kegempaan ini juga diadakan di seluruh madrasah, karena ini langkah penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan terhadap gempa bumi, dan sangat membantu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran siswa, guru, dan staf sekolah dalam menghadapi situasi gempa. (afm/fid)