Wartajakarta.id – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah berulang kali menyuarakan keprihatinan bahwa statistik resmi Tiongkok tidak menunjukkan dampak sebenarnya dari lonjakan kasus Covid saat ini. WHO menegaskan kembali perlunya Tiongkok untuk berbagi lebih banyak data tentang wabah Covid-19. Sementara itu, WHO membandingkan data Tiongkok, dibandingkan AS yang lebih transparan.
Washington saat ini kondisinya sama dengan Beijing, yakni sama-sama tengah berupaya memerangi sub-varian baru BF.7 dan XBB.1.5. Namun, data Tiongkok dinilai tak mencerminkan data situasi sebenarnya.
“WHO masih percaya bahwa kematian sangat tidak dilaporkan (secara terbuka) dari Tiongkok,” kata Direktur Darurat WHO Michael Ryan.
Dia menyalahkan definisi sempit Beijing tentang kematian akibat Covid. Ia mendorong perlunya dokter dalam sistem kesehatan masyarakat untuk didorong melaporkan kasus yang sebenarnya.
Sebaliknya, dia memuji kerja sama otoritas di Amerika Serikat, dimana sub-varian XBB.1.5 Omicron menyebar dengan cepat. Tiongkok tiba-tiba menghentikan pendekatan nol-Covid bulan lalu setelah tiga tahun. Hal itu memicu gelombang infeksi yang memenuhi rumah sakit dan krematorium yang kewalahan.
Namun, menurut angka resmi, Tiongkok melaporkan hanya 37 kematian terkait Covid-19. Menghadapi perbedaan data, WHO mendorong Tiongkok lebih terbuka.
“Dengan tidak adanya data, negara-negara telah membuat keputusan untuk mengambil pendekatan pencegahan dan kami mengatakan bahwa hal itu dapat dimengerti dalam situasi tersebut,” kata Ryan.
Pimpinan teknis WHO untuk Covid -19, Maria Van Kerkhove, mengatakan Washington telah menyediakan hampir semua data yang tersedia sejauh ini di XBB.1.5. Sub varian, yang terdeteksi di 38 negara. Virus tersebut mampu menghindari perlindungan kekebalan dari infeksi atau vaksin sebelumnya.
(jp)