Wartajakarta.id–Pemerintah Tiongkok telah mengisyaratkan kesiapannya untuk melonggarkan kebijakan radikal nol Covid, menyusul gelombang protes baru-baru ini terhadap penguncian dan langkah pembatasan ketat lainnya.
Dilansir dari Antara, Wakil Perdana Menteri Tiongkok Sun Chunlan, yang bertanggung jawab atas langkah pencegahan penyebaran Covid mengatakan, patogenisitas varian Omicron melemah, menurut laporan kantor berita Xinhua. Pemerintah telah mengatur kondisi untuk mengubah langkah-langkah tanggap epidemi.
Pernyataan Sun di Komisi Kesehatan Nasional itu disampaikan menyusul kemarahan publik di seluruh Tiongkok selama akhir pekan lalu terhadap langkah-langkah pembatasan Covid yang ketat. Beberapa demonstran secara terbuka mencela Partai Komunis yang berkuasa yang dipimpin Presiden Xi Jinping.
Hingga Kamis (1/12), Tiongkok telah mencatat kasus Covid-19 harian sekitar 33.000 di daratan, menurut komisi tersebut. Angka itu sedikit menurun dari rekor tertinggi yang mencapai hampir 39.000 pada Minggu (27/11), tetapi masih berada pada level yang tinggi.
Menurut berita Xinhua, setelah aksi protes, beberapa pembatasan di Guangzhou, Tiongkok selatan, telah dilonggarkan. Restoran, bioskop, dan pusat rekreasi dibuka kembali.
Kota Beijing, di mana banyak permukiman dikunci karena wabah, telah mengizinkan pasar swalayan dibuka kembali setelah penutupan satu hari. Penduduk Beijing yang tinggal di rumah, termasuk manula dan mereka yang bekerja atau belajar dari rumah, juga tidak perlu lagi menjalani tes Covid masal.
Kereta bawah tanah dan bus di Beijing pun tidak lagi mewajibkan penumpang untuk menunjukkan hasil tes Covid negatif yang diambil dalam waktu 48 jam, mulai Senin (5/12). Di Tiongkok, orang-orang diharuskan untuk sering melakukan tes Covid agar dapat pergi ke tempat umum. Mereka yang berada di daerah lockdown dilarang meninggalkan rumah mereka dan kerap kesulitan mendapatkan cukup makanan dan kebutuhan sehari-hari.
Kedutaan Besar AS di Beijing telah mendorong warga Amerika di Tiongkok untuk menyimpan persediaan obat-obatan, air kemasan, dan makanan selama 14 hari. Kedutaan Besar Jepang di Beijing juga menyarankan warga Jepang di Tiongkok untuk menyiapkan stok barang-barang kebutuhan untuk 10 hari.
Sementara itu, pihak berwenang Tiongkok diyakini mewaspadai kemungkinan bahwa para pelayat yang berkumpul untuk mengenang Jiang Zemin dapat berkembang menjadi demonstrasi anti pemerintah. Mantan presiden itu meninggal pada Rabu (30/11), dalam usia 96 tahun.
Ada seruan yang diunggah di media sosial agar masyarakat berkumpul untuk mengenang mantan pemimpin Tiongkok itu. Jenazah Jiang diterbangkan dari tempat dia wafat di Shanghai ke Beijing pada Kamis. Upacara peringatan untuknya akan diadakan di Balai Besar Rakyat (Great Hall of the People) di Beijing pada Selasa depan (6/12).
(jp)