Wartajakarta.id – Tiongkok dilanda ‘tsunami’ Covid-19 setelah pembatasan kebijakan Nol-Covid dicabut. Selama ini Tiongkok menggunakan vaksin Sinovac, Sinopharm, dan vaksin nasional lainnya, bukan vaksin Barat dengan metode mRNA. Kini Tiongkok mulai mendistribusikan vaksin Pfizer dan obat Paxlovid buatan Pfizer karena gelombang kasus tak terbendung.
Karena kasus Covid di China terus meningkat, Beijing akan segera mulai mendistribusikan obat Covid-19 Paxlovid buatan Pfizer ke pusat kesehatan masyarakat dalam beberapa hari mendatang, seperti laporan CNN mengutip media pemerintah pada hari Senin (26/12).
Laporan itu muncul saat kota itu bergulat dengan gelombang infeksi yang belum pernah terjadi sebelumnya yang telah membuat rumah sakit kewalahan dan obat langka. Menurut China News Service milik pemerintah, setelah mendapatkan pelatihan, dokter komunitas akan memberikan obat kepada pasien Covid-19 dan memberikan informasi tentang cara menggunakannya.
“Kami telah menerima pemberitahuan dari pejabat, tetapi tidak jelas kapan obat itu akan tiba,” kata seorang pekerja di pusat kesehatan masyarakat setempat di distrik Xicheng Beijing, kata laporan CNN.
Pemerintah Tiongkok tidak punya pilihan selain mengimpor vaksin mRNA dan obat antivirus jika ingin membatasi lonjakan kematian terkait Covid-19, menurut dua pakar yang berbasis di AS. Maka vaksin mRNA dinilai menjadi solusi dan lebih manjur.
“Tanpa penguncian atau tindakan mitigasi lainnya, dan jika tidak adanya vaksin mRNA, Tiongkok dapat memperkirakan sebanyak 500 ribu kematian terkait Covid pada April tahun depan,” kata seorang profesor di Institut Metrik dan Evaluasi Kesehatan Universitas Washington Ali Mokdad seperti laporan South China Morning Post.
Dia mengatakan bahwa jumlah itu dapat dikurangi setengahnya jika otoritas Tiongkok menegakkan masker yang tepat, memberlakukan penguncian di mana rumah sakit diisi melebihi 80 persen dari kapasitas dan mengadopsi transparansi penuh pada jumlah infeksi lokal. Sebab saat ini para ahli memperkirakan Tiongkok dapat melonjak hingga 250 juta kasus.
Benarkah karena Bukan Pakai Vaksin mRNA?
Kepada Wartajakarta.id, Ahli Spesialis Penyakit Dalam Universitas Indonesia Prof Zubairi Djoerban mengatakan lonjakan kasus di Tiongkok bukan semata-mata disebabkan karena Tiongkok memakai Sinovac, bukan vaksin Barat. Akan tetapi menurutnya, kenaikan kasus di Tiongkok disebabkan karena kebijakan Nol Covid saat awal-awal pandemi membuat jumlah yang terinfeksi lebih sedikit. Dan mereka yang divaksinasi, kekebalannya semakin menurun.
“Oh bukan karena pakai Pfizer atau Sinovac. Jadi begini, aku divaksinasi, kamu sama. Maka saat saya divaksinasi 6 bulan lalu, maka proteksi sudah rendah banget. Jadi artinya efektivitas vaksinasi pelan-pelan menurun. Dan ketika saya 2 bulan lalu terinfeksi, kekebalan naik lagi berlipat. Jadi sehingga kalau tertular tak parah,” paparnya di Jakarta, Selasa (27/12).
Prof Zubairi menambahkan sejak awal Tiongkok memberlakukan kebijakan zero transmission atau zero Covid dengan testing yang ketat, karantina, dan lockdown. Maka orang yang terinfeksi sangat sedikit jumlahnya.
“Jadi waktu dulu AS, India, kita Indonesia dilanda badai, kita banyak yang terinfeksi menjadi sehat dan kebal. Dulu teori amat sangat bagus, penyakit menular ya karantina. Selesai, virus enggak kemana-mana tanpa memperhatikan tubuh penduduk,” ujarnya.
Sebetulnya, lanjutnya, yang terjadi di Indonesia, India, dan AS di mana badai Covid sempat melanda, saat ini masyarakat sudah mencapai kekebalan kawanan atau herd immunity. Itu karena masyarakatnya lebih kebal dari vaksinasi plus terinfeksi Covid-19.
“Berbeda dengan Tiongkok saat awal-awal harus zero transmission. Maka negara yang sempat dilanda badai, jauh lebih tinggi herd immunity-nya daripada Tiongkok,” tutupnya.
(jp)