Wartajakarta.id – Tiongkok marah. Amerika Serikat (AS) dituding bereaksi berlebihan. Melanggar aturan internasional. Tudingan itu muncul setelah militer AS menembak jatuh sebuah balon udara milik Tiongkok, Sabtu (4/2). Balon tersebut ditembak saat berada di Samudra Atlantik.
Alasan Washington menembak lantaran meyakini balon itu dipakai untuk memata-matai. Namun, Beijing bersikeras bahwa balon tersebut untuk kepentingan meteorologi. Bukan mata-mata atau pengintai.
’’Tiongkok menyatakan ketidakpuasan dan protes keras terhadap penggunaan kekuatan oleh AS untuk menyerang pesawat sipil tak berawak.’’ Demikian bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Tiongkok seperti dikutip Agence France-Presse.
CNN mengungkapkan, Kepala Badan Meteorologi Tiongkok Zhuang Guotai dipecat pasca penembakan balon tersebut. Namun, beberapa pakar menilai, kebijakan pemecatan itu hanya menguatkan klaim Tiongkok bahwa balon itu untuk keperluan meteorologi.
’’Tiongkok akan dengan tegas melindungi hak dan kepentingan yang sah dari perusahaan terkait dan berhak untuk melakukan tanggapan lebih lanjut yang diperlukan,’’ tambah pernyataan Kemenlu Tiongkok.
Balon tersebut ditembak jatuh dengan menggunakan misil. Diluncurkan pesawat F-22 Raptor yang lepas landas dari pangkalan Angkatan Udara Langley di Virginia. Balon jatuh di perairan dangkal dengan kedalaman 14 meter.
Sebelum menembak balon itu, Administrasi Penerbangan Federal sempat menutup wilayah udara di lepas Pantai Carolina dan tiga bandara di wilayah tenggara. Penutupan tersebut dilakukan sebagai upaya menjaga keamanan nasional. Bandara baru dibuka lagi pada Sabtu sore, setelah penembakan.
Penyelam Angkatan Laut AS dan kapal selam tidak berawak diterjunkan untuk mengangkat sisa-sisa balon dan muatannya ke permukaan. Benda itu akan dibawa ke laboratorium FBI di Quantico, Virginia. Selanjutnya, dianalisis pakar FBI dan badan intelijen.
Sebelumnya, pada Jumat (3/2), Pentagon sempat menyatakan bahwa balon udara tersebut tidak menimbulkan ancaman militer maupun politik. Namun, ternyata mereka berubah pikiran sehari setelahnya. Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin menegaskan, operasi itu dilakukan sebagai tindakan yang disengaja dan sah.
Penembakan tersebut dilakukan sebagai tanggapan atas pelanggaran kedaulatan oleh Tiongkok. Kehadiran balon di wilayahnya tidak bisa diterima. Sebab, balon tersebut diduga kuat untuk mengawasi atau mengintai tempat-tempat strategis di Benua Amerika.
Ternyata, Presiden AS Joe Biden juga memerintahkan penembakan balon Tiongkok tersebut. ’’Mereka berhasil menjatuhkannya dan saya ingin memuji pilot kami yang melakukannya,’’ ujar Biden.
Balon tersebut memicu kontroversi sejak Kamis (2/2). Bahkan, karena itu Menteri Luar Negeri Antony Blinken membatalkan kunjungannya ke Beijing pada Jumat (3/2). Padahal, kunjungan itu kali pertama yang bertujuan mengurai ketegangan hubungan AS-Tiongkok. Awalnya Beijing tutup mulut sebelum akhirnya mengakui bahwa balon itu memang miliknya.
Balon bermasalah serius tersebut masuk ke wilayah udara Kepulauan Aleutian, AS, di Alaska pada 28 Januari 2023. Balon terbang menuju wilayah Kanada, sebelum akhirnya kembali ke AS.
(jp)