Wartajakarta.id – Rusia semakin menekan Ukraina menyusul pernyataan aliansi NATO yang secara eksplisit membuka jalan untuk keanggotaan bagi Ukraina. Hal itu terungkap dari pernyataan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg yang membuka sinyal bagi Ukraina untuk bergabung dengan aliansi militer Barat. Akibatnya, Ukraina kini semakin berat menghadapi serangan dari Rusia.
“Pintu NATO terbuka,” kata Stoltenberg dalam pertemuan para Menteri Luar Negeri negara-negara anggota NATO di Bucharest, Rumania beberapa hari lalu.
Rusia mengatakan pasukannya telah bergerak maju di Ukraina timur pada Rabu (30/11). Kiev mengatakan Moskow sedang merencanakan sesuatu di selatan, sementara NATO berusaha untuk menopang negara-negara lain yang takut akan destabilisasi dari Moskow.
Staf Umum Ukraina mengatakan sebelumnya bahwa pasukannya telah memukul mundur enam serangan Rusia dalam 24 jam di wilayah Donbas timur, sementara artileri Rusia tanpa henti menembaki Sungai Dnipro, termasuk di kota Kherson di selatan. Cuaca musim dingin telah menghambat pertempuran di lapangan.
Amerika Serikat Bereaksi
“Ini adalah target baru Presiden (Vladimir) Putin. Dia memukul mereka (Ukraina) dengan keras,” kata Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken setelah pembicaraan NATO di Bucharest.
“Putin telah memusatkan api dan kemarahannya pada warga sipil Ukraina,” tambahnya.
“Putin membom lebih dari sepertiga sistem energi Ukraina yang memasok listrik dan air, tetapi strateginya akan gagal, tidak berhasil,” kata Blinken.
Blinken menambahkan bahwa NATO juga prihatin dengan hubungan Tiongkok dengan Moskow. NATO secara terbuka menyatakan akan membantu Ukraina.
Sementara itu, Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan kepada warga Ukraina untuk hati-hati akan serangan besar-besaran Rusia minggu ini setelah infrastruktur listrik hancur sejak awal Oktober. Ia mengatakan pasukan Rusia menyerang wilayah yang dikuasai pemerintah Ukraina di provinsi Donetsk dan Luhansk yang membentuk Donbas timur, serta Kharkiv di timur laut.
“Situasi di depan sulit,” kata Zelensky. “Mereka (Rusia) sedang merencanakan sesuatu di selatan,” imbuhnya.
(jp)