Wartajakarta.id – Malaysia menghadapi parlemen gantung untuk pertama kalinya dalam sejarah. Hasil pemilu tidak jelas siapa pemenangnya secara telak.
Dukungan untuk aliansi Islam konservatif mencegah koalisi besar memenangkan mayoritas sederhana dalam pemilihan umum. Tanpa pemenang yang jelas, ketidakpastian politik dapat berlanjut karena Malaysia menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kenaikan inflasi. Bahkan negara itu memiliki 3 perdana menteri dalam beberapa tahun.
Kegagalan partai-partai utama untuk memenangkan suara mayoritas membuat mereka harus membangun aliansi mayoritas untuk membentuk pemerintahan. Raja konstitusional Malaysia juga dapat terlibat, karena ia memiliki kekuasaan untuk menunjuk sebagai Perdana Menteri seorang anggota parlemen yang ia yakini dapat memimpin mayoritas.
Hasil Pemilu
Koalisi pemimpin oposisi lama Anwar Ibrahim memenangkan kursi terbanyak dalam pemilihan umum hari Sabtu (19/11) seperti laporan Komisi Pemilihan. Kejutan terbesar datang dari mantan perdana menteri Muhyiddin Yassin menunjukkan kinerja yang kuat, menarik dukungan dari kubu-kubu tradisional pemerintah petahana.
Aliansi Muhyiddin mencakup partai konservatif Melayu-sentris dan partai Islamis yang menggembar-gemborkan syariah atau hukum Islam. Ras dan agama adalah isu yang memecah belah di Malaysia, di mana populasi etnis Melayu Muslim menjadi mayoritas dan etnis Tiongkok dan India menjadi minoritas.
Baik Anwar maupun Muhyiddin mengaku mendapat dukungan untuk membentuk pemerintahan, meski tidak mengungkapkan dengan partai mana mereka bersekutu. Muhyiddin mengatakan dia berharap untuk menyelesaikan diskusi pada Minggu sore. Anwar mengatakan dia akan mengirimkan surat kepada Raja Malaysia Al-Sultan Abdullah yang merinci dukungannya.
Malaysia memiliki 222 kursi parlemen tetapi pemungutan suara diadakan hanya untuk 220 pada hari Sabtu (19/11). Komisi Pemilihan mengatakan koalisi multi-etnis Pakatan Harapan Anwar memenangkan total 82 kursi, sementara aliansi Perikatan Nasional Muhyiddin memenangkan 73 kursi. Koalisi Barisan Ismail memperoleh 30 kursi. Satu kursi belum diumumkan pada pukul 21.00 GMT.
Ketua KPU Abdul Ghani Salleh mengatakan masing-masing partai tak ada yang mendapat lebih dari 50 persen kursi dalam pemilu Malaysia ke-15. Tak ada yang menang telak meraih 50 persen kursi dari total 220 kursi.
“Berdasarkan keputusan yang diperoleh tersebut, tidak ada partai mana pun yang berhasil memperoleh mayoritas melebihi 50 persen dari jumlah kursi yang diperebutkan,” katanya seperti dilansir dari Reuters, Minggu (20/11).
Barisan dan Pakatan telah lama menjadi blok utama Malaysia. Barisan mengatakan menerima keputusan rakyat, tetapi tidak mau mengakui kekalahan.
Padahal jumlah pemilih Malaysia yang memberikan suara pada hari Sabtu mencapai rekor. Mereka berharap untuk mengakhiri serentetan ketidakpastian politik yang telah menghasilkan tiga perdana menteri di tengah masa ekonomi yang tidak menentu dan pandemi Covid-19.
(jp)