Wartajakarta.id – Tiongkok tengah berduka atas meninggalnya mantan presiden Jiang Zemin yang menjabat pada 1993 hingga 2003. Ia meninggal dunia pada 30 November 2022 pada usia 96 tahun. Mengenang sosoknya, sejumlah ahli menganalisis perbedaan gaya kepemimpinannya dengan Xi Jinping.
Jiang Zemin wafat di tengah serangkaian protes warga terhadap Xi Jinping terkait pembatasan Covid-19.
Semasa hidup, Jiang Zemin memiliki daya tarik yang tidak biasa di antara orang Tionghoa yang hanya memiliki sedikit ingatan tentang pemerintahannya yang sebenarnya, dan memandangnya sebagai kakek yang pemarah dan penyayang.
Sebagian dari ini mungkin karena kepribadiannya yang penuh warna, yang kontras dengan citra Xi Jinping. Jiang Zemin dikenal banyak bicara dan spontan.
Saat Tiongkok bergulat dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, meningkatnya ketegangan dengan Barat, dan beratnya pembatasan nol-Covid, kematian Jiang Zemin telah mempertajam nostalgia membandingkan kepemimpinan Xi Jinping.
Jiang Zemin terbuka untuk memperbaiki hubungan dengan AS setelah insiden diplomatik besar, menjanjikan dukungan setelah tragedi 9/11 dan melakukan beberapa perjalanan untuk bertemu dengan presiden Bill Clinton dan George W Bush.
Mantan diplomat Singapura Kishore Mahbubani ingat pernah menyaksikan pertemuan antara Jiang Zemin dan Presiden AS Bill Clinton pada pertemuan puncak tahun 1993. “Kedua pria itu sangat memesona. Dan apa yang seharusnya menjadi konfrontasi panas ternyata menjadi pertemuan yang sangat hangat,” katanya kepada BBC.
“Dan menurut saya itu adalah kontribusi terbesar Jiang Zemin. Dia bukanlah seorang genius dalam ekonomi, tetapi dia memberikan penutup dan kerangka politik dan melakukan pekerjaan yang brilian,” tambahnya.
Kasih sayang publik Tiongkok terhadap Jiang Zemin tetap tak berkurang. Beberapa jam setelah pengumuman kematiannya, para pelayat meletakkan karangan bunga di luar rumah saat kecil Jiang Zemin di Kota Yangzhou.
(jp)