Wartajakarta.id–Protes terhadap kebijakan ketat nol Covid Tiongkok yang melibatkan penguncian (lockdown) makin menyebar selama akhir pekan di tengah lonjakan infeksi virus korona. Para demonstran di Shanghai menyerukan permintaan, yang jarang terjadi sebelumnya, agar Presiden Xi Jinping mundur.
Menurut saksi dan video yang dibagikan di media sosial seperti dilansir dari Antara, di Shanghai, ratusan orang berkumpul pada Minggu (27/11) malam, untuk unjuk rasa selama dua hari berturut-turut, dengan para peserta melampiaskan kemarahan mereka terhadap pihak berwenang. Mereka meneriakkan slogan-slogan seperti Turunkan Xi Jinping dan Turunkan Kaisar yang mengacu pada pemimpin negara tersebut.
Banyak petugas polisi dikerahkan di lokasi untuk mengepung para pengunjuk rasa dan beberapa dari mereka ditahan. Di Tiongkok, gerakan protes besar jarang terjadi. Sebab, mengkritik pemerintah secara terbuka dianggap ilegal.
Kota Shanghai, yang merupakan pusat keuangan dan komersial negara itu, telah menjalani penguncian (lockdown) selama dua bulan pada awal tahun ini. Banyak aksi unjuk rasa di seluruh Tiongkok dipicu kebakaran mematikan di Urumqi, Ibu Kota Xinjiang.
Sejumlah demonstrasi berikutnya di kota itu berlangsung dengan spekulasi yang berkembang bahwa upaya evakuasi dan penyelamatan dalam peristiwa kebakaran itu mungkin terhambat akibat langkah penguncian.
Mahasiswa Universitas Tsinghua, sebuah sekolah tinggi elite di Beijing yang adalah almamater Xi, mengadakan demonstrasi pada Minggu (27/11) untuk menyerukan kebebasan. Nyala lilin juga diadakan di sebuah universitas Nanjing pada Sabtu (26/11) untuk meratapi 10 korban kebakaran di sebuah gedung apartemen bertingkat tinggi di Urumqi.
Menurut video yang beredar, aksi protes juga dilakukan di pusat kota Wuhan, tempat wabah Covid-19 pertama kali terdeteksi pada akhir 2019, Kota Shenzhen (pusat kegiatan teknologi di Tiongkok selatan), Kota Lanzhou di barat laut, dan Jilin di timur laut. Di Shanghai, lebih dari 100 orang turun ke sebuah jalan lokal bernama Urumqi pada Sabtu (26/11) malam.
Mereka menawarkan lilin dan bunga untuk memberi penghormatan kepada para korban kebakaran. Orang-orang juga menyerukan keluhan mereka tentang langkah-langkah pencegahan Covid yang radikal, menolak kediktatoran, dan mendorong upaya demokrasi. Polisi kemudian turun tangan dan menahan beberapa demonstran, menurut sejumlah saksi dan video.
Seorang pria berusia 20-an yang datang untuk meletakkan bunga di jalan mengatakan, dia yakin langkah pembatasan Covid yang diterapkan Pemerintah Tiongkok terlalu ketat karena penyakitnya sekarang sudah dianggap seperti flu biasa. Dia juga menyesalkan kurangnya kebebasan berbicara di Tiongkok.
Hingga Sabtu (26/11), Tiongkok telah mencatat kasus virus korona harian lebih dari 38.000 di daratan, menurut Komisi Kesehatan Nasional negara itu. Angka kasus tersebut mencapai tingkat tertinggi untuk hari keempat berturut-turut dibandingkan dengan saat pemerintah mulai merilis data pada musim semi 2020.
Di Tiongkok, orang-orang di daerah yang menjalani lockdown dilarang meninggalkan rumah mereka dan sering kali kesulitan mendapatkan makanan yang cukup dan kebutuhan sehari-hari.
Menghadapi kemarahan publik yang semakin meningkat, Pemerintah Tiongkok baru-baru ini mengatakan, akan menahan diri untuk tidak menerapkan penguncian di seluruh kota dan sebagai gantinya mengisolasi bangunan tempat kasus Covid dilaporkan.
Kepemimpinan Xi Jinping diyakini khawatir dengan penyebaran aksi protes terhadap kebijakan nol-Covid dan meningkatnya kritik terhadap pemerintah. Xi memulai masa jabatan lima tahun sebagai presiden untuk ketiga kalinya, di mana hal itu melanggar norma. Xi kembali menjabat sebagai ketua Partai Komunis yang berkuasa pada Oktober.
Daerah otonom Xinjiang pada Sabtu (26/11) memutuskan untuk menindak aksi kekerasan yang bertujuan menghalangi penerapan langkah-langkah anti virus. Seorang jurnalis Tiongkok mengatakan, pihak berwenang mungkin mengklaim bahwa pasukan asing berada di belakang aksi protes dan secara ketat mengontrol aksi unjuk rasa.
(jp)