Wartajakarta.id – Kecaman terus berdatangan atas insiden pembakaran Alquran oleh politikus sayap kanan Swedia-Denmark, Rasmus Paludan. Peristiwa itu terjadi atas protes Swedia terhadap Turki. Tak hanya umat Muslim, umat Kristen dan Yahudi di Turki dan seluruh dunia ikut mengutuk pembakaran Alquran tersebut.
Pemimpin Partai Stram Kurs (Garis Keras) Rasmus Paludan, diizinkan membakar Alquran di depan Kedutaan Besar Turki di ibu kota Swedia saat menyampaikan pidato anti-Islam pada Sabtu (21/1).
Tindakan Paludan menimbulkan reaksi keras di seluruh dunia. Turki menjadi target kejahatan rasial. Sekitar 250 orang berkumpul di luar Konsulat Swedia di Istanbul pada Minggu (22/1) malam untuk mengecam peristiwa kejahatan rasial Islamofobia tersebut. Para pengunjuk rasa membakar foto Paludan dan membawa bendera hijau yang menampilkan dakwah Islam.
“Kami mengutuk Islamofobia yang didukung negara Swedia,” tegas demonstran.
Dunia Muslim yang lebih luas, negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, Mesir, Iran, Pakistan, dan banyak lainnya mengutuk keras dan menolak tindakan ekstremis. Menteri Luar Negeri Kuwait menyerukan kepada masyarakat internasional untuk memikul tanggung jawab dengan menghentikan tindakan itu.
“Tindakan yang tidak dapat diterima dan mencela semua bentuk kebencian dan ekstremisme dan meminta pertanggungjawaban para pelaku,” katanya.
Umat Muslim dan Kristen Rusia, Patriarkat Armenia Türkiye, dan komunitas Yahudi termasuk di antara mereka yang mengecam insiden itu. Patriarkat Armenia mengatakan tindakan keji itu tidak hanya menyinggung perasaan religius orang-orang yang beragama Islam, tetapi ada juga gerakan yang bertujuan untuk menghasut perasaan permusuhan di antara orang-orang yang berbeda agama.
“Sudah pasti tindakan itu tak sesuai dengan demokrasi, kebebasan dan hak asasi manusia, tidak akan diterima oleh mereka yang memiliki perasaan yang sama,” tambahnya.
Administrasi Spiritual Muslim di Rusia menggambarkan aski pembakaran sebagai kebiadaban dan menyatakan bahwa semua umat Muslim Rusia mengutuk keras peristiwa itu. Hal senada disampaikan Ketua Departemen Sinode untuk Hubungan Gereja Rusia dengan Masyarakat dan Media Massa, Vladimir Legoyda melalui Twitter.
“Tindakan vandalisme yang tidak dapat diterima. Batas kemanusiaan tidak bisa dilanggar, dan kesucian agama tidak bisa dilukai dalam perjuangan politik,” kata Legoyda.
Sementara, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) juga mengecam pembakaran Alquran sebagai tindakan provokatif yang menargetkan umat Islam, menghina nilai-nilai suci dan bernuansa Islamofobia. OKI meminta Swedia untuk menghukum mereka yang berada di balik kejahatan kebencian itu.
(jp)