Wartajakarta.id – Sebuah foto menampilkan kondisi tentara Rusia babak belur setelah dipukuli. Narasi yang dilaporkan Telegram mengatakan para tentara itu menolak berperang melawan Ukraina.
Tentara Rusia dipukuli dan dikurung di ruang bawah tanah. Mereka disebut kelaparan dan diancam akan dieksekusi karena menolak berperang di Ukraina.
Hanya saja, Presiden Rusia Vladimir Putin menggambarkan mereka sebagai pahlawan. Laporan ASTRA, saluran Telegram yang dijalankan oleh jurnalis pembangkang Rusia, pertama kali mulai melaporkan kamp-kamp penahanan pada Oktober ketika muncul 20 tentara ditahan dalam kondisi yang memprihatinkan di daerah pendudukan Luhansk.
Laki-laki mengeluh dalam sebuah video yang diselundupkan keluar dari tahanan. Mereka ditahan di satu ruang bawah tanah, dipaksa buang air besar di satu ember komunal, dan harus tidur di lantai di bawah langit-langit yang bocor. Kelompok itu mengatakan mereka diperlakukan seperti itu setelah menolak berperang di garis depan.
Mereka akhirnya dipindahkan dari ruang bawah tanah dan dibawa ke pos komando di kota Rubizhne. Mereka ditahan selama 10 hari kecuali mereka setuju berperang. Tempat lain kemudian ditemukan di Zavitne Bazhannya, wilayah Donetsk, dimana 20 orang lainnya dilaporkan ditahan.
“Tidak ada toilet di ruang bawah tanah, para tahanan tidak mandi selama beberapa minggu, mereka diberi makan sekali dalam sehari,” lapor ASTRA.
Situs berita Rusia Insider juga melaporkan di ruang bawah tanah yang sama, dan berbicara dengan seorang perempuan bernama Elena Kashina yang mengatakan suaminya yang berusia 33 tahun ditahan di sana setelah menolak perintah untuk berperang. Elena mengatakan suaminya termasuk di antara sekelompok pria yang menolak berperang sebelum mereka diancam akan dieksekusi dan dibawa pergi.
BBC berbicara dengan seorang ayah yang putranya adalah perwira tentara reguler yang awalnya setuju untuk pergi berperang. Tapi, setelah melihat mesin perang Rusia beraksi, putranya berubah pikiran dan menolak untuk berperang.
(jp)