Wartajakarta.id – Finlandia punya peluang yang lebih besar untuk menjadi anggota NATO ketimbang Swedia. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sudah memberikan sinyal mendukung Finlandia. Tapi, tidak dengan Swedia. Sebab, banyak hal yang membuat hubungan Turki-Swedia terus memburuk. Salah satunya kasus pembakaran Alquran.
”Kalau perlu, kami bisa memberi respons berbeda terkait Finlandia. Swedia akan syok ketika kami memberikan jawaban berbeda untuk Finlandia,” ujar Erdogan saat bertemu para pemilih muda.
Sejatinya, Finlandia dan Swedia dulu merupakan negara nonblok militer. Namun, sejak Rusia menginvasi Ukraina, dua negara itu berubah pendirian. Mereka memilih bergabung dengan NATO.
Untuk bisa masuk, semua anggota NATO harus setuju tanpa terkecuali. Nah, kini tinggal Turki dan Hungaria yang belum memberi kepastian. Parlemen Hungaria diharapkan menyetujui pendaftaran dua negara itu Februari mendatang.
Yang paling membuat Turki berang, Swedia tak mau mengekstradisi puluhan orang yang terlibat dengan militan Kurdi serta kudeta gagal pada 2016. Turki menuding Swedia melindungi teroris. Situasi memburuk ketika Rasmus Paludan melakukan aksi bakar Alquran untuk menentang sikap Turki yang dinilai menghambat Swedia masuk NATO.
”Jika Anda benar-benar ingin bergabung dengan NATO, maka Anda (Swedia, Red) harus mengembalikan para teroris itu ke kami,” tegas Erdogan, seperti dikutip The Guardian.
Sebelumnya, reaksi menentang aksi pembakaran Alquran oleh pendemo asal Swedia itu meluas di mana-mana. Tidak hanya di Turki, tetapi juga di banyak negara muslim lain. Termasuk Indonesia.
(jp)