Wartajakarta.id – Antrean mobil jenazah dan peti mati membanjiri krematorium khusus Covid-19 di Tiongkok. Sejumlah laporan foto dan video menyatakan Tiongkok darurat Covid-19.
Namun otoritas Tiongkok tetap menyatakan tak ada kematian terbaru dan kasus Covid-19 terkendali. Sejak awal pandemi, Tiongkok hanya melaporkan sekitar 5 ribu kematian.
Sikap otoritas Tiongkok ini bertentangan dengan pemandangan di krematorium Beijing. Tiongkok melaporkan tidak ada kematian baru untuk hari Selasa (20/12). Padahal lusinan mobil jenazah berbaris di luar krematorium Beijing pada hari Rabu (21/12). Sikap otoritas Tiongkok memicu kritik terhadap penghitungan virusnya. Kasus melonjak sejak Tiongkok mencabut pembatasan Covid-19 atau kebijakan Nol-Covid seperti dilansir dari NBC, Jumat (23/12).
Laporan menyebutkan sistem kesehatan negara yang rapuh dan tidak siap. Rumah sakit berebut tempat tidur, apotek kesulitan obat-obatan, dan pihak berwenang berlomba untuk membangun klinik khusus. Para ahli sekarang memperkirakan Tiongkok bisa diterpa lebih dari satu juta kematian akibat Covid tahun depan.
Di sebuah krematorium di distrik Tongzhou Beijing, Reuters melihat antrean sekitar 40 mobil jenazah menunggu untuk masuk, sementara tempat parkir penuh. Di dalam, keluarga dan teman-teman, banyak yang mengenakan pakaian putih dan ikat kepala seperti tradisi, berkumpul dengan 20 peti mati yang masih menunggu kremasi. Staf mengenakan jas hazmat. Asap naik dari 5-15 tungku. Ada banyak polisi di luar krematorium.
Reuters tidak dapat memverifikasi apakah kematian itu disebabkan oleh Covid. NBC News belum memverifikasi akun tersebut.
“Kita harus bertindak cepat dan menyiapkan klinik demam, sumber daya perawatan darurat dan parah,” kata pakar pernapasan dari Rumah Sakit Pertama Universitas Peking, Wang Guangfa.
Wang memperkirakan gelombang Covid akan memuncak pada akhir Januari. Kemungkinannya situasi akan kembali normal pada akhir Februari atau awal Maret.
(jp)