Wartajakarta.id – Perayaan tahun baru Imlek di Tiongkok masih dibayangi dengan situasi darurat Covid-19. Dalam sehari, angka kematian tembus 36 ribu jiwa.
Angka yang direvisi dari perusahaan yang berbasis di Inggris Airfinity menambahkan 11 ribu kematian terjadi setiap hari sejak 29 Desember. Ledakan infeksi ini terjadi sejak pemerintah melonggarkan pembatasan pandemi dan mencabut kebijakan Nol-Covid.
Diprediksi ledakan kasus masih terhadi karena jutaan orang pulang dari perjalanan selama liburan tradisional Imlek. Laporan Airfinity juga memperingatkan sistem kesehatan negara itu dalam beberapa minggu mendatang.
“Perkiraan kami memperkirakan beban yang signifikan pada sistem perawatan kesehatan Tiongkok terjadi dalam dua minggu ke depan dan kemungkinan pasien yang dirawat bisa meninggal karena rumah sakit yang penuh sesak dan kurangnya perawatan,” kata direktur analitik Airfinity Matt Linley seperti dilansir dari 9News, Minggu (22/1).
“Kemungkinan banyak pasien yang dapat diobati bisa meninggal karena rumah sakit yang penuh sesak dan kurangnya perawatan,” tambahnya.
Informasi dari Airfinity, dirilis pada awal pekan ini. Kasus telah memuncak di beberapa provinsi, seperti Henan, Gansu, Qinghai dan Yunnan.
Para peneliti percaya virus itu menyebar lebih cepat dari yang diperkirakan ke daerah pedesaan, itu karena masyarakat bepergian untuk liburan tahun baru. Liburan Tahun Baru Imlek, yang lebih dikenal di Tiongkok sebagai Festival Musim Semi, adalah perayaan terpenting dalam kalender Tiongkok. Jutaan orang telah melakukan perjalanan lintas negara minggu ini, berharap untuk berkumpul kembali dengan keluarga.
(jp)