Wartajakarta.id – Ribuan umat Katolik antre mengular di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Senin (2/1). Banyak orang yang datang sejak pagi. Mereka ingin memberikan penghormatan terakhir untuk Paus Emeritus Benediktus XVI.
”Saya tiba pukul 06.00. Rasanya normal untuk datang dan memberikan penghormatan setelah semua yang dia lakukan untuk gereja,” ujar Anna-Maria, biarawati Italia yang ikut dalam antrean, seperti dikutip Agence France-Presse.
Kemarin pagi jenazah Paus sudah dipindahkan ke Basilika Santo Petrus untuk momen lying in state. Itu adalah tradisi di mana jenazah diletakkan di dalam atau di atas peti agar orang bisa melihat untuk kali terakhir. Prosesi tersebut berlangsung tiga hari. Paus Fransiskus akan memimpin pemakaman pada Kamis (5/1).
Jenazah Paus yang meninggal pada usia 95 tahun itu diletakkan di atas catafalque yang terbungkus kain emas di depan altar gereja. Dia mengenakan jubah merah kepausan. Dua orang Garda Swiss berjaga di sisinya.
Vatikan belum merilis rincian daftar tamu. Mereka hanya mengatakan bahwa delegasi dari Italia dan Jerman ada dalam daftar. Jerman adalah negara kelahiran Benediktus. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni termasuk orang pertama yang mengunjungi jenazahnya kemarin pagi.
Berdasar aturan yang ditetapkan pada 1996, Paus harus dimakamkan 4–6 hari setelah kematiannya. Prosesi pemakaman diputuskan oleh para kardinal yang berkumpul dari seluruh dunia. Mereka juga mengatur sembilan hari masa berkabung Vatikan yang dikenal sebagai novemdiales.
Para kardinal itu membuat keputusan karena kematian Paus biasanya memicu kekosongan kekuasaan di puncak gereja. Namun, dalam kasus Benediktus, tidak ada kekosongan. Dia mengundurkan diri pada 28 Februari 2013 karena alasan kesehatan.
Benediktus adalah Paus pertama dalam 600 tahun yang mundur dari jabatannya. Sehingga Paus Fransiskus bertanggung jawab atas prosesi pemakamannya. Ini kali pertama dalam era modern, Paus yang masih menjabat mengurus pemakaman mantan Paus.
(jp)