Wartajakarta.id – Pemerintah Tiongkok akhirnya menuruti permintaan penduduk. Mereka mulai melonggarkan kebijakan terkait Covid-19. Bukan hanya beberapa kota, tapi berlaku untuk seluruh negeri. Kabar tersebut diumumkan pada Rabu (7/12) oleh Komisi Kesehatan Nasional.
”Vaksinasi pada lansia akan ditingkatkan,” ujar Komisi Kesehatan Nasional seperti dikutip Agence France-Presse. Angka vaksinasi lansia yang rendah tersebut selama ini menjadi salah satu alasan untuk tetap menerapkan kebijakan nol kasus.
Berdasar pedoman yang dirilis komisi tersebut, ada beberapa aturan yang dilonggarkan. Kini orang yang tertular Covid-19 tapi gejalanya ringan bisa diisolasi di rumah saja. Sebelumnya, semua pasien dan kontak dekatnya wajib isolasi di fasilitas milik pemerintah. Pembelian obat panas dan demam kini juga tidak dibatasi.
Lockdown yang menjadi sumber kemarahan penduduk di penjuru negeri juga dilonggarkan. Kini ia hanya diterapkan di area lebih kecil. Misalnya, dalam satu gedung tidak semua dikuntara, hanya unit atau lantai tertentu. Tidak ada lagi penguncian satu lingkungan ataupun satu kota. Jika tidak ada kasus baru ditemukan dalam lima hari, lockdown akan dicabut.
Sekolah-sekolah harus dibuka jika tidak ada kasus yang mewabah. Petugas juga dilarang memblokade pintu keluar untuk kebakaran. Kasus kebakaran di Urumqi, Xinjiang, yang menewaskan 10 orang, salah satunya karena korban kesulitan menyelamatkan diri akibat lockdown. Insiden tersebut memicu demo menentang pemerintah dan lockdown di berbagai kota.
Petugas juga dilarang membatasi orang yang ingin mengakses fasilitas medis darurat. Banyak kasus kematian karena pasien darurat harus menunjukkan status negatif Covid-19 lebih dulu. Swab test massal juga ditiadakan. Hanya pegawai risiko tinggi yang harus tes berkala. Misalnya, petugas medis ataupun pegawai pengantar makanan.
Penduduk juga tidak perlu lagi menunjukkan status hijau di aplikasi HP mereka untuk memasuki area publik. Khusus untuk panti jompo, fasilitas medis, dan sekolah tetap wajib menunjukkan. Aplikasi yang melacak keberadaan penduduk itu sempat menuai kontroversi.
Untuk naik kendaraan umum juga tidak perlu lagi memperlihatkan hasil negatif tes Covid-19. Penduduk bisa bepergian antarprovinsi tanpa tes. Meski banyak aturan yang sudah dilonggarkan, Tiongkok belum membuka diri sepenuhnya dari luar. Mayoritas perbatasan internasional masih ditutup. Pelancong dari luar harus dikarantina selama sepekan lebih dulu ketika tiba di Tiongkok.
Beijing mengatakan, aturan baru itu sebagai evaluasi atas kebijakan pencegahan dan pengendalian pandemi.
”Kebijakan masa lalu telah mendapat respons yang keras dari masyarakat,” ujar ahli Komisi Kesehatan Nasional Li Bin kemarin.
Pasca aturan baru tersebut, warga mulai aktif beraktivitas di luar rumah. Penduduk bahkan berbondong-bondong membeli tiket perjalanan. The Paper melaporkan, aplikasi perjalanan terbesar di Tiongkok, Ctrip, mencatat rekor pencarian penerbangan menjelang tahun baru Imlek tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
(jp)