Wartajakarta.id – Korban tewas aksi demo di Iran terus bertambah. The Guardian melaporkan, setidaknya 15 orang ditembak mati pada Selasa (15/11) saat menggelar demo untuk memperingati aksi anti pemerintah 2019 lalu. Salah seorang korban tewas merupakan anak berusia 9 tahun.
Aksi massa yang turun ke jalan tiga tahun lalu itu dipicu kenaikan BBM yang mencapai 50–200 persen. Pemerintah Iran menyatakan akan menyelidiki penembakan yang terjadi Selasa lalu itu. Salah satunya melalui otopsi pada jenazah korban. Kantor berita yang dikelola pemerintah menyebutkan, aksi Selasa lalu itu kemungkinan merupakan pertanda bahwa protes sudah berubah menjadi pemberontakan bersenjata.
Demo yang terjadi saat ini juga bisa memecahkan rekor aksi 2019 jika pemerintah tak kunjung memiliki solusi untuk menenangkan masyarakat. Massa awalnya turun ke jalan akibat kematian Mahsa Amini pada 16 September lalu di tahanan pemerintah. Dia ditangkap dan disiksa gara-gara jilbabnya dinilai tidak sesuai aturan.
Sejak itu, gelombang massa terus turun ke jalan. Iran Human Rights (IHR) mengungkapkan, korban jiwa akibat demo terkait Mahsa Amini sudah mencapai 348 orang. Di antara korban tewas, ada 43 anak-anak dan 26 perempuan. Sementara itu, mereka yang ditangkap mencapai 15 ribu orang.
Alih-alih mencari jalan keluar, pemerintah Iran cenderung bersikap keras pada demonstran. Minggu (13/11), salah seorang demonstran dijatuhi hukuman mati. Rabu (16/11), tiga orang lagi juga mendapat hukuman serupa. Terdakwa masih diberi kesempatan untuk banding.
Menurut Vali Nasr, profesor di sekolah studi internasional lanjutan di Johns Hopkins University, ini pertama kalinya aksi protes di Iran bukan tentang masalah ekonomi atau politik tertentu.
”Seluruh generasi muda menantang aturan seperti mengenakan jilbab dan pemerintah di Iran berusaha sepenuhnya untuk mengelola protes,” jarnya, seperti dikutip CNBC. Aksi yang mendapat sorotan dari media-media Barat itu berpotensi membawa serangkaian sanksi baru ke Negeri Para Mullah tersebut.
(jp)