Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Dwi Rio Sambodo memandang pelaku UMKM takjil memiliki peran strategis menggerakkan ekonomi musiman berbasis komunitas selama Ramadan.
Menurut dia, aktivitas ekonomi yang tumbuh setiap bulan suci berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat. Bahkan, memperkuat perputaran ekonomi lokal.
“Oleh karena itu, diperlukan kebijakan fasilitasi yang terstruktur, terukur, dan berkelanjutan,” ujar dia, Jumat (27/2).
Rio menegaskan, dukungan Pemprov DKI Jakarta bisa terwujud lewat kebijakan konkret. Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (PPKUKM) DKI Jakarta bisa memperluas penyelenggaraan bazar Ramadan dan sentra takjil secara merata hingga tingkat kelurahan dan RW.
Rio berpendapat, perlu pendekatan berbasis data kewilayahan agar program tersebut mampu menjangkau pelaku UMKM secara inklusif.
Dengan demikian, keuntungan ekonomi selama Ramadan tidak hanya terpusat di pusat perbelanjaan atau kawasan bisnis di tengah kota. Pelaku usaha di lingkungan permukiman warga juga ikut merasakan.
“Hal ini penting agar keuntungan ekonomi Ramadan tidak hanya terpusat di mal atau pusat kota, tapi juga dinikmati pelaku usaha di lingkungan tempat tinggal warga,” kata Rio.
Selain perluasan akses lokasi usaha, Rio juga menyoroti pentingnya afirmasi bagi UMKM binaan dalam setiap bazar resmi yang difasilitasi pemerintah.
Skema promosi produk lokal harus memberikan kemudahan. Berupa biaya partisipasi yang terjangkau atau bahkan subsidi.
Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari strategi peningkatan akses pasar sekaligus memperluas jejaring usaha pelaku UMKM.
Sehingga UMKM mampu berkembang secara berkelanjutan. Tidak hanya bergantung pada momentum musiman.
Di sisi lain, Rio menekankan urgensi percepatan transformasi digital bagi UMKM Jakarta. Pelatihan pemanfaatan marketplace, optimalisasi media sosial untuk promosi, serta perluasan penggunaan sistem pembayaran non-tunai seperti QRIS.
Dengan begitu kemampuan literasi digital meningkat. Sekaligus memperkuat daya saing pelaku usaha di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin mengarah pada transaksi digital.
“Meningkatkan literasi digital dan daya saing pelaku usaha secara berkelanjutan,” tukas dia. (yla/df)



