Wartajakarta.id – Korban jiwa ledakan bom bunuh diri di Peshawar, Pakistan, terus bertambah. Selasa (31/1), 92 orang dilaporkan meninggal. Sebanyak 80 orang lainnya masih dirawat di rumah sakit. Itu menjadi insiden yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di Pakistan.
Tim penyelamat masih menggali reruntuhan untuk menemukan korban yang mungkin tertimbun. ”Kami tidak berharap bisa menemukan orang yang masih hidup. Sebagian besar yang kami temukan sudah menjadi mayat,” ujar Bilal Faizi, juru bicara tim penyelamat, seperti dikutip BBC.
Senin (30/1) malam, petugas menemukan sembilan orang. Beberapa di antaranya masih hidup. Salah satunya Wajahat Alim. Polisi 23 tahun itu ditemukan tujuh jam setelah ledakan. Tepat di sampingnya, ada korban yang tewas. ”Saya sempat kehilangan harapan untuk bertahan,” ucapnya kepada Agence France-Presse saat dirawat di rumah sakit.
Kepala Polisi Peshawar Muhammad Ijaz Khan menyatakan, lebih dari 90 persen korban adalah polisi. Masjid yang jadi sasaran bom bunuh diri itu memang berada di kompleks kepolisian Peshawar. Saat kejadian, mayoritas yang sedang salat di masjid tersebut adalah polisi. Bom meledak hanya beberapa detik ketika imam memulai salat Asar.
Lebih dari 20 polisi yang gugur sudah diidentifikasi dan langsung dimakamkan. Jenazah mereka diletakkan berjajar dengan diselimuti bendera Pakistan. Upacara penghormatan terakhir digelar sebelum mereka disemayamkan ke peristirahatan terakhir. ”Pembunuhan brutal terhadap muslim yang bersujud di hadapan Allah bertentangan dengan ajaran Alquran,” tegas Perdana Menteri (PM) Pakistan Shehbaz Sharif.
Polisi masih menyelidiki dalang di balik serangan tersebut. Demikian juga motifnya. Selain itu, petugas masih melacak bagaimana cara pelaku bisa masuk ke masjid di kompleks kepolisian Peshawar dengan memakai rompi bom. Daya ledak bom yang dibawa pelaku cukup besar. Sebagian tembok masjid luluh lantak.
Awalnya, pejabat Tehreek-e-Taliban (TTP) Sarbakaf Mohmand dan Omar Mukaram Khurasani mengklaim ledakan itu sebagai aksi balas dendam atas kematian anggota mereka tahun lalu, Khalid Khorasani. Namun, Jubir TTP Muhammad Khorasani membantah keterlibatan mereka dalam serangan tersebut.
”Mengenai insiden Peshawar, kami perlu mengklarifikasi bahwa TTP tidak ada hubungannya. Menurut undang-undang dan konstitusi umum kami, tindakan apa pun di masjid, madrasah, tempat pemakaman, dan tempat suci lainnya adalah pelanggaran,” jelasnya, seperti dikutip CNN.
(jp)