Wartajakarta.id – Kelompok peretas Rusia dikabarkan tengah menargetkan laboratorium penelitian nuklir milik Amerika Serikat (AS). Jumlah laboratorium nuklir yang dibidik juga bukan cuma satu, tapi tiga sekaligus.
Sebuah kelompok bernama Cold River melakukan kampanye phishing terhadap para ilmuwan di laboratorium nasional Brookhaven, Argonne dan Lawrence Livermore musim panas. Menurut Reuters, hal ini merupakan upaya untuk mendapatkan kata sandi alias password penting dari pusat penelitian tersebut.
Upaya tersebut diyakini telah dilakukan pada Agustus dan September 2022 lalu. Merunut ke belakang, waktu tersebut merupakan waktu saat para ahli PBB mengunjungi pembangkit listrik tenaga nuklir di wilayah Ukraina yang dikuasai Rusia untuk membantu mencegah potensi bencana menyusul penembakan hebat di daerah tersebut.
Sementara itu, Presiden Vladimir Putin menyinggung kesiapan untuk mempertahankan wilayah yang diklaim Rusia dengan senjata nuklir. Sejauh klaim tersebut, tidak jelas apakah upaya phishing berhasil atau mengapa peretas mencoba mendapatkan akses ke sistem laboratorium.
Namun, Adam Meyers, wakil presiden senior intelijen di perusahaan keamanan siber CrowdStrike, mengatakan kepada Reuters bahwa Cold River terlibat secara langsung mendukung operasi informasi Kremlin.
Cold River, yang pertama kali muncul di radar para profesional intelijen setelah menargetkan Kantor Luar Negeri Inggris pada 2016, telah terlibat dalam lusinan insiden peretasan profil tinggi lainnya dalam beberapa tahun terakhir, menurut wawancara dengan sembilan perusahaan keamanan siber.
Dikutip via The Guardian, Reuters kemudian melacak akun email yang digunakan dalam operasi peretasannya antara tahun 2015 dan 2020 ke seorang pekerja TI di kota Syktyvkar, Rusia. “Ini adalah salah satu grup peretasan terpenting yang belum pernah Anda dengar. Mereka terlibat langsung mendukung operasi informasi Kremlin,” kata Adam Meyers.
Tahun lalu, grup tersebut membocorkan email dari mantan kepala MI6, dinas intelijen luar negeri Inggris. Cold River juga dikatakan menargetkan organisasi non-pemerintah yang menyelidiki kejahatan perang.
Dilaporkan melakukan kampanye semacam itu sekitar waktu komisi PBB mengatakan bahwa pasukan Rusia bertanggung jawab atas kejahatan perang dan pelanggaran hak asasi manusia pada hari-hari awal invasi negara itu ke Ukraina.
(jp)