Wartajakarta.id – Ketegangan antara Rusia dan Ukraina terus berlangsung. Belakangan, dua negara itu saling tuding telah melakukan kejahatan perang. Moskow menyatakan, roket yang diluncurkan pasukan Kiev telah menghantam fasilitas medis di Novoaidar, Luhansk. Akibat serangan tersebut, 14 pasien dan petugas medis tewas. Selain itu, 24 orang lainnya luka-luka.
Di lain pihak, Ukraina menyebutkan, serangan Rusia selama dua hari terakhir telah menelan 11 nyawa warga sipil. ’’Serangan rudal yang disengaja terhadap fasilitas medis sipil merupakan kejahatan perang yang serius oleh rezim Kiev. Semua yang terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan kejahatan ini akan diketahui dan dimintai pertanggungjawaban,’’ bunyi pernyataan Departemen Pertahanan Rusia seperti dikutip Al Jazeera. Ukraina tentu saja menampik sebagai pelaku.
Moskow menuding Kiev menggunakan peluncur roket HIMARS bantuan dari AS. Rusia agaknya ingin menyeret AS sebagai pihak yang terlibat dalam serangan di rumah sakit tersebut.
Ukraina memang mendapatkan bantuan persenjataan besar-besaran dari negara Barat, terutama AS. Tanpa bantuan tersebut, kecil kemungkinan Ukraina bisa bertahan melawan Rusia.
Awalnya, bantuan hanya senjata-senjata untuk bertahan. Namun, saat ini sudah berubah menjadi senjata taktikal dan penyerangan. AS bahkan sudah memastikan akan mengirimkan 31 tank tempur. Sumber di internal AS mengungkapkan, tank yang bakal dikirim adalah seri M1A2. Lebih canggih daripada pendahulunya A1.
Dikutip CNN, Duta Besar Ukraina untuk Prancis Vadym Omelchenko mengonfirmasi total ada 321 tank yang akan dikirimkan negara-negara sekutu ke Ukraina. Namun, dia tidak memerinci negara mana yang siap untuk menyediakan tank dan model yang bakal diberikan.
Selain dari AS, yang sudah pasti adalah 14 tank Leopard 2 A6 dari Jerman dan 14 tank Challenger 2 dari Inggris. Polandia sempat menyatakan rencananya untuk ikut mengirim tank Leopard 2 A6 buatan Jerman ke Ukraina. Namun, belum jelas kapan tank akan tiba di Ukraina.
Omelchenko menyatakan, tanggal pengiriman akan bervariasi, bergantung pada jenis tank dan negara asalnya. Waktu pengiriman akan disesuaikan pada putaran konsultasi berikutnya antara Ukraina dan negara-negara Barat.
Sebelumnya, Ukraina sempat menyatakan ingin diberi jet tempur juga. Ada kemungkinan rencana itu bakal terwujud. Pejabat militer AS dilaporkan mendesak Pentagon agar menyuplai Ukraina dengan jet tempur F-16. Dengan demikian, diharapkan Kiev bisa mempertahankan diri lebih baik terhadap serangan Moskow. ’’Saya rasa kami tidak akan menentangnya,’’ ujar pejabat senior di Departemen Pertahanan AS terkait peluang bantuan jet tempur F-16.
Mykhailo Podolyak, penasihat Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, menyatakan, negara Barat paham tentang bagaimana perang berkembang dan kebutuhan untuk memasok pesawat yang mampu memberikan perlindungan bagi kendaraan tempur lapis baja yang akan mereka terima. Podolyak mengungkapkan bahwa beberapa negara partner Ukraina memilih bersikap konservatif. Mereka enggan memberikan senjatanya.
Salah satu yang menentang keras adalah Perdana Menteri Hungaria Victor Orban. Jumat (27/1), dia menegaskan bahwa negara-negara Barat yang menyediakan senjata dan uang ke Ukraina telah hanyut menjadi peserta aktif dalam konflik tersebut. Orban telah menolak untuk mengirim senjata ke Ukraina dan telah berusaha untuk memblokir dana Uni Eropa (UE) yang dialokasikan untuk bantuan militer.
(jp)