Wartajakarta.id – Presiden Joko Widodo mempertegas seruan penghentian kekerasan agar segera tercipta kondisi kondusif di Myanmar. Hal tersebut disampaikan Presiden Jokowi saat berbicara pada sesi retreat KTT ASEAN Ke-41 yang secara khusus membahas implementasi 5-point consensus (5PC) di Phnom Penh, Kamboja.
Dalam laman Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden, Jokowi mengatakan beberapa hal penting terkait isu Myanmar yang dapat dijadikan elemen keputusan pada KTT ASEAN Kamboja kali ini. Pertama, kata dia, penerapan 5PC tetap menjadi acuan utama bagi ASEAN dalam membantu Myanmar keluar dari krisis politiknya.
Jokowi juga mengusulkan penugasan Sekjen ASEAN dan AHA Centre untuk terus mengupayakan akses agar Comprehensive Needs Assesment dapat segera diselesaikan. Menurutnya, bantuan kemanusiaan untuk mendukung life-sustaining menjadi lebih penting artinya saat ini.
Menurutnya, engagement ASEAN dengan semua stakeholders Myanmar harus segera dilakukan. “Karena hanya dengan membuka dialog dengan semua pihak, maka ASEAN akan dapat memfasilitasi dialog nasional yang dimandatkan oleh 5PC,” kata Jokowi.
Menurutnya, untuk menghormati prinsip non-interference, maka ASEAN tidak memberikan dukungan terhadap pemilu yang tidak inklusif dan tidak dipersiapkan berdasar dialog nasional. “Kita memiliki tanggung jawab kepada rakyat ASEAN dan dunia. Jika kita tidak bertindak tepat, maka kredibilitas dan relevansi ASEAN menjadi taruhannya,” terang mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut. (*)
(jp)